BAHAYA SEKULERISASI

Januari 22, 2009 at 3:30 am Tinggalkan komentar

Selasa, 25 Maret 2003
Bahaya Sekulerisasi Pendidikan
Oleh : Nuim Hidayat

Republika : Tujuh belas Ramadhan 1406/1986. Subuh dini hari menjelang
sahur, tiga orang tak dikenal menyelinap masuk ke dalam rumah
suami-istri Ismail Faruqi dan Lois Lamya di wilayah Chletenham,
Philadelpia.

Dengan kejam, suami-istri Al Faruqi, keduanya guru besar di Universitas
Temple AS, dibunuh oleh orang-orang yang tidak dikenal dan kemudian
wafat seketika.

Siapa Ismail Faruqi? Laki-laki kelahiran 1921 di Palestina ini dikenal
sebagai tokoh penggagas utama Islamisasi Pengetahuan.

Ia berpendapat bahwa untuk menuju masa depan yang lebih baik perlu
diadakan reformasi di bidang pemikiran Islam. Dan, itu berarti kaum
Muslim tidak saja harus menguasai ilmu-ilmu warisan Islam, namun juga
harus menguasai disiplin ilmu-ilmu modern.

Menurut Faruqi, adalah sangat perlu kaum Muslim melakukan integrasi
pengetahuan-pengetahuan baru dengan warisan Islam dengan penghilangan,
perubahan, penafsiran kembali dan adaptasi komponen-komponennya,
sehingga sesuai dengan pandangan dan nilai Islam (Atlas Budaya Islam,
1998).

Selain Faruqi, kini yang terkenal dengan gagasan integrasi Islam dan
pengetahuan modern adalah Harun Yahya. Buku-buku dan VCD Harun Yahya
yang mengungkap tentang detail-detail keajaiban Allah di alam kini laris
dan beredar luas di masyarakat.

Perpaduan nilai-nilai Islam dan ilmu pengetahuan modern itu kini
dipraktekkan berbagai sekolah-sekolah Islam terpadu di Indonesia. Baik
tingkat TK sampai perguruan tinggi.

Lahirnya sekolah-sekolah Islam itu juga didasari keprihatinan banyaknya
sekolah-sekolah Islam maupun sekolah-sekolah umum yang kurang
menghasilkan pribadi-pribadi yang unggul secara intelektual dan moral
sekaligus.

RUU Sisdiknas
Di tengah tumbuhnya semangat memadukan pengetahuan modern dengan warisan
Islam itu, kini lahirlah RUU Sisdiknas. Isi RUU Sisdiknas yang beberapa
ayatnya mendukung perpaduan ilmu Islam dan pengetahuan modern itu, tentu
saja disambut hangat oleh kalangan Islam.

Sehingga pimpinan Pondok Gontor, Badan Kerjasama Pondok Pesantren se
Indonesia, Pesantren-pesantren Banten, Pesantren-pesantren Madura yang
tergabung dalam BASSRA, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung penuh
isi RUU Sikdiknas dari pemerintah. Dan mereka meminta secepatnya agar
DPR mengesahkan RUU Sisdiknas pada 2 Mei 2003 nanti.

Tapi, Majelis Nasional Pendidikan Katolik dan Majelis Pendidikan Kristen
dengan didukung oleh sebuah media massa besar, berupaya ‘mati-matian’
menjegal RUU yang kini sedang dibahas di DPR itu.

Keberatan dua lembaga itu, terutama pada pasal-pasal yang berkenaan
dengan agama. Pasal-pasal lain diprotes, tapi tidak sedahsyat
pasal-pasal agama. Mereka mengerahkan massa untuk berdemo, melobi DPR
dan sambung menyambung menulis artikel-artikel yang mengecam keras RUU
Sisdiknas.

Di antara keberatan mereka adalah Pasal 1 ayat 5 yang berisi, Pendidikan
Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45 dan
perubahannya, yang bersumber pada ajaran agama, keanekaragaman budaya
Indonesia serta tanggap terhadap perubahan zaman. Ketentuan ini diprotes
karena dianggap paham dan definisi pendidikan nasional sangat kental
dengan muatan agama.

Kecaman terhadap pasal ini sebenarnya cukup aneh. Ajaran agama sebagai
sumber pertama pendidikan nasional adalah wajar, bahkan bisa dikatakan
wajib. Kenapa? Karena Pancasila yang merupakan dasar pendidikan, sila
pertamanya terkait erat dengan Ketuhanan (agama). Dan bukankah
Pendidikan agama Kristen/Katolik sendiri juga telah sejak lama
melaksanakan hal itu dan juga menginginkan siswanya beragama yang baik?

Pasal lain yang diprotes adalah pasal 4 ayat 1 yang berbunyi, Pendidikan
nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap,
serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap
kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

Pasal ini dikecam, karena seharusnya tujuan pendidikan adalah
mencerdaskan kehidupan bangsa; meningkatkan iman dan takwa bukan tujuan
pendidikan. “Perumusan tujuan pendidikan (pasal 4) terlalu sarat beban
agamis, tetapi tidak mencerdaskan,” tulis Darmaningtyas, salah satu
tokoh yang menolak RUU Sisdiknas itu (Kompas, 18/3).

Pendapat Darmaningtyas ini cukup aneh. Bila iman dan takwa bukan tujuan
pendidikan, maka yang lahir bisa jadi model-model manusia semisal Bush,
Blair dan Sharon. Cerdas dan pintar, tapi tidak berperikemanusiaan.

Manusia-manusia yang tidak peduli terhadap penderitaan dan kematian
massal manusia di Palestina dan Irak. Atau yang terjadi adalah
pendidikan yang menghasilkan banyak pejabat.yang korup, seperti terjadi
pada hasil pendidikan selama ini. Dan lagian di pasal itu juga jelas
mendorong kecerdasan manusia dengan adanya kata-kata dalam pasal itu:
berilmu dan cakap.

Selain dua pasal di atas, dikecam juga pasal 13 ayat 1A yang menyatakan,
Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapat
pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh
pendidik yang seagama.

Bunyi ketentuan itu menimbulkan anggapan antara lain, turut campurnya
negara dalam urusan privat warganya. Pasal ini juga dinilai bertentangan
dengan pasal 28e, UUD 45, dimana dinyatakan bahwa setiap orang bebas
memilih pendidikan dan pengajaran (Koran Tempo, 21/3).

Kecaman terhadap pasal 13 ayat 1A ini, sebenarnya aneh bin ajaib.
Karena, pasal ini justru pasal yang sangat demokratis dan bisa disebut
pasal yang ‘sangat toleran’ dari umat Islam yang mayoritas di tanah air
ini.

Dengan pasal itu, maka sekolah umum atau sekolah Islam harus menyediakan
guru-guru yang beragama lain, bila ada murid yang beragama lain (atau
bisanya murid dipersilakan tidak mengikuti pelajaran agama itu).

Seperti sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kupang, yang menyediakan
guru-guru non Islam untuk siswanya yang beragama non Islam. Karena itu
ada yang bertanya: apa beratnya sekolah-sekolah non Islam menyediakan
guru-guru Islam untuk murid yang beragama Islam?

Prof Dr Dachnel Kamars, Guru Besar Manajemen Pendidikan di Universitas
Negeri Padang mendukung pendidikan agama diajarkan oleh guru yang
seagama. Dachnel mencontohkan, bagaimana seorang siswa Muslim bisa
menghayati akidah (keyakinan) dan fikih (hukum/aturan) jika dia diajar
oleh guru non Muslim.

Secara kompetensi, seorang guru yang berpengetahuan luas mungkin bisa
mengajarkan riwayat agama Islam serta tata cara beribadah kepada siswa
Muslim, kendati guru yang bersangkutan menganut agama lain.

Namun, secara afektif, guru yang bersangkutan belum tentu bisa
mentransformasi pelajaran dengan efektif. Agama adalah soal keyakinan
dan nurani. Bagaimana mungkin seorang guru non Muslim yang tidak pernah
berpuasa mampu menanamkan nilai-nilai dan hikmah puasa kepada muridnya,
papar Dachnel (Kompas, 17/3).

Sedangkan anggapan bahwa pasal 13 itu, berarti negara ikut campur dalam
urusan privat warganya adalah alasan yang klise. Negara kita ikut campur
dalam masalah privat sudah sejak lama, ikut campur dalam masalah
pernikahan, pembangunan Masjid, pembangunan gereja, masalah zakat dan
lain-lain.

Kekhawatiran terhadap pasal-pasal agama itu, juga diungkapkan oleh pakar
pendidikan Arief Rahman. “Kita perlu mengajarkan kepada anak-anak kita
tentang eksistensi Sang Pencipta, Tuhan. Mengenal agama berarti kita
akan mengenal hidup ini bukan hanya di dunia, tapi juga ada di alam
lain. Ini berarti pula kita tidak bisa hidup seenaknya sendiri tanpa
tanggungjawab,” kata Kepala Sekolah SMA Lab School ini.

Bahaya sekulerisme
Agama, khususnya Islam, jelas-jelas mendorong berkembangnya kecerdasan
manusia dan ilmu pengetahuan. Sejak kecil anak-anak Islam telah diajar
untuk mengenal dan menguasai bahasa dengan mengaji dan keharusan dapat
membaca Alquran.

Selain itu, tradisi Islam yang menonjol adalah pengajian, tabligh akbar,
majelis taklim dan lain-lain. Jika ada musik, syair-syairnya pun
terpilih, seperti nasyid dll. Tradisi musik hura-hura yang disertai
mabuk-mabukan, goyang erotisme yang dapat merusak akal ‘menghilangkan
kecerdasan’ jelas ditentang oleh Islam.

Tradisi Islam yang ‘mengagungkan’ ilmu pengetahuan itu adalah salah
faktor yang menyebabkan kejayaan Islam bisa berlangsung sampai lebih
dari 12 abad. Gambaran keagungan warisan-warisan Islam itu, ditulis
sangat menarik dan cukup lengkap oleh Ismail Faruqi dalam bukunya, The
Cultural Atlas of Islam.

Karena itu, memisahkan ilmu pengetahuan dan Islam (sekulerisme), adalah
ibaratnya memisahkan air atau udara dengan kandungan oksigennya. Ketika
air atau udara hilang kandungan oksigennya, maka hilanglah nilai
kegunaannya.

Ketika, ilmu pengetahuan dipisahkan dengan Islam (agama), maka hilanglah
maknanya bagi kehidupan. Seperti, rudal-rudal tomahawk, pesawat-pesawat
F-117 Stealth, dan helikopter Apache yang merupakan kreasi tinggi ilmu
pengetahuan, kini digunakan untuk membunuh manusia dan menindas bangsa
yang tidak bersalah.

Direktur Litbang Al Jannah Islamic Fullday School, Cibubur

Entry filed under: BAHAYA SEKULERISASI. Tags: .

WANITA JELATA DOWNLOAD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: