DO’A SEHARI-HARI

DO’A SEHARI-HARI

1.Do’a Sebelum Makan

Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtana wa qinaa ‘adzaa-bannaari Bismillahirrahmaaniraahiimi.

Artinya : Ya Allah berkahilah kami dalam rezki yang telah Engkau limpahkan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa neraka. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (HR. Ibnu as-Sani)

2. Do’a Sesudah Makan

Alhamdulillahilladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa muslimiina

Artinya : Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami muslim. (HR. Abu Daud)

Alhamdulilaahilladzi ath’amanii hadzaa wa razaqaniihi min ghayri hawlin minnii wa laa quwwatin.

Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan melipahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatanku. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

3. Do’a Sebelum Tidur

Bismikallahhumma ahyaa wa bismika amuutu.

Artinya : Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Do’a Sesudah Bangun Tidur

Alhamdulillaahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhin nusyuuru

Artinya : Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami. Kepada-Nya-lah kami akan kembali (HR. Bukhari)

5.Do’a Terkejut Bangun Dari Tidur

A’uudzu bikalimaatillahit tammaati min ghadhabihi wa min syarri ‘ibaadihi wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuni

Artinya : Aku berlindung dengan kalimah Allah yang sempurna dari kemarahan Allah dari kejahatan hamba-hamba-Nya dan dari gangguan setan dan dari kehadiran mereka (HR. Abu Daud dan Tir-middzi)

6.Do’a Mimpi Baik

Alhamudlillaahirrabbil ‘alamiina

Artinya : Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam (HR. Bukhari)

7.Do’a Mimpi Tidak Baik

Allaahumma innii a;uudzu bika min ‘amalisy syaythaani, wa sayyi’aatil ahlaami

Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan setan dan dari mimpi-mimpi yang buruk (HR. Ibn as-Sani)

8.Do’a Sesudah Duduk Bangun Tidur

Laa ilaaha illaa anta subhaanaka allahuma zidnii ‘ilman wa laa tuzigh qalbii ba’da idz hadaitanii wa hablii min ladunka rahmatan innaka antal wahhaabu.

Artinya : Tidak ada Tuhan melainkan Engkau, maha suci Engkau ya Allah, aku minta ampun kepada-Mu tentang dosa-dosaku, dan aku mohon rahmat-Mu tentang dosa-dosaku, dan aku mohon rahmat-Mu. Ya Allah, tambahlah ilmuku dan janganlah Engkau gelincirkan hatiku setelah Engkau memberi petunjuk kepadaku, dan karuniakanlah rahmat untuk-ku daripada-Mu, sesungguhnya Engkaulah yang maha Memberi. (HR. Abu Daud)

9.Do’a Menjelang Shubuh

Allaahumma innii a’uuzdu bika min dhiiqid dun-yaa wa dhiiqi yaumil qiyaamati.

Artinya : Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan hari kiamat. (HR. Abu Daud)

10. Do’a Menyambut Datangnya Pagi

Ashbagnaa wa ashbahal mulku lillaahi ‘Azza wa jalla, wal hamdu lillaahi, wal kibriyaa’u wal ‘azhamatu lillaahi, wal khalqu wal amru wallailu wannahaaru wa maa sakana fiihimaa lillaahi Ta’aalaa. Allahummaj’al awwala haadzan nahaari shalaahan wa ausathahu najaahan, wa aakhirahu falaahan, yaa arhamar raahimiina.

Artinya : Kami telah mendapatkan Shubuh dan jadilah segala kekuasaan kepunyaan Allah, demikian juga kebesaran dan keagungan, penciptaan makhluk, segala urusan, malam dan siang dan segala yang terjadi pada keduanya, semuanya kepunyaan Allah Ta’ala. Ya Allah, jadikanlah permulaan hari ini suatu kebaikan dan pertengahannya suatu kemenangan dan penghabisannya suatu kejayaan, wahai Tuhan yang paling Penyayang dari segala penyayang.

Allahumma innii as’aluka ‘ilman naafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan

Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang berguna, rezki yang baik dan amal yang baik Diterima. (h.r. Ibnu Majah)

11. Do’a Menyambut Petang Hari

Amsainaa wa amsal mulku lillaahi walhamdulillahi, laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lahu. Allahumma innii as’aluka min khairi haadzihil lailati wa khhaiiri maa fiihaa, wa a’uudzu bika min syarrihaa wa syarrimaa fiihaa. Allaahumma innii a’udzuu bika minal kasali walharami wa suu’il kibari wa fitnatid dun-yaa wa ‘adzaabil qabri.

Artinya : Kami telah mendapatkan petang, dan jadilah kekuasaan dan segala puji kepunyaan Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan malam ini dan kebaikan yang terdapat padanya dan aku berlindung dengan-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang terdapat padanya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari malas, tua bangka, dan dari keburukan lanjut umur dan gangguan dunia dan azab kubur. (HR. Muslim)

Allaahumma anta rabbii, laa ilaaha illaa anta, ‘alaika tawakakaltu wa anta rabbul ‘arsyil ‘azhiimi, maa syaa’allahu kaana, wa maa lam yasya’ lam yakun. Laa haula wa laa quwwata illaa billahil ‘alliyyil ‘azhiimi. A’lamu annallaaha ‘alaa kuli syai’in qadiirun, wa annallahu qad ahaatha bukillin syai’in ‘ilman. Allahumma innii a’uudzu bika min syarri nafsii, wa min syarri kuli daabbatin anta aakhidzun bi naashiyatihaa. Inaa rabbii’alaa shiraathin mustaqiimin.

Artinya : Ya allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang lain kecuali Engkau, kepada-Mu aku bertawakkal, dan engkau adalah penguasa ‘Arasy Yang Maha Agung, apa yang dekehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan terjadi, tidak ada daya dan uapaya melainkan dengan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Besar. Aku mengetahui bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu, dan bahwa pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kejahatan dariku, dan kejahatan setiap binatang yang melata yang Engkau dapat bertindak terhadapnya, sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.

12. Do’a Masuk Rumah

Assalaamu ‘alaynaa wa ‘ alaa ‘ibaadillahish shaalihiina. Allaahumma innii as-aluka khayral mawliji wa khayral makhraji. Bismillahi walajnaa wa bismillaahi kharahnaa wa ‘alallahi tawakkalnaa, alhamdulilaahil ladzii awaanii.

Artinya : Semoga Allah mencurahkan keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba-Nya yang shalih. Ya Allah, bahwasanya aku memohon pada-Mu kebaikan tempat masuk dan tempat keluarku. Dengan menyebut nama-Mu aku masuk, dan dengan mneyebut nama Allah aku keluar. Dan kepada Allah Tuhan kami, kami berserah diri. Segala puji bagi Allah yang telah melindungi kami. (HR. Abu Daud)

13. Do’a Keluar Rumah

Bismilaahi tawakkaltu ‘alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi.

Artinya : Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

14. Do’a Menuju Masjid

Allaahummaj’al fii qalbii nuuran wa fii lisaanii nuuran waj’al fii sam’ii nuuran waj’al fii basharii nuuran waj’al min khalfii wa min amaamii nuuran waj’al min fawqii nuuran wa min tahtii nuuran. Allahumma a’thinii nuuran.

Artinya : Ya Allah, jadikanlah dalam qalbuku nur, dalam lisanku nur, jadikanlah dalam pendengaranku nur dan dalam penglihatanku nur. Jadikanlah dari belakang-ku nur dan dari depanku nur. Jadikanlah dari atasku nur dan dari bawahku nur. Ya Allah, berilah aku nur tersebut. (HR.Muslim)

15. Do’a Masuk Masjid

A’uudzu billahil ‘aliyyil ‘azhiimi. Wa biwajhihil kariimi, wa bisulthaanihil qadiimi minasy syaythaanir rajiimi alhamdu lillahi rabbil ‘aalamiina. Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin. Allaahumaghfirlii dzunuubii waftah lii abwaaba rahmatika.

Artinya : Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar. Dan demi wajah-Nya Yang Maha Mulia dan dengan kekuasaan-Nya Yang tak berpermulaan (berlindung aku) dari kejahatan syaitan yang terkutuk. Segala puji kepunyaan Allah Tuhan semesta alam. Ya Allah, sanjung dan selamatkanlah Nabi Muhammad saw. Dan keluarganya. Ya Allah, ampunilah segala dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmat-Mu. (h.r. Abu Daud)

Allaahummaftah lii abwaaba rahmatika.

Artinya : Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu. (h.r. Muslim)

16. Do’a Keluar Masjid

Allaahumma innii as’aluka min fadhlika

Artinya : Ya Allah, aku memohon kepada-Mu karunia-Mu. (HR. Muslim, Abu Daud, an-Nasa’I dan Ibnu Majah)

17. Do’a Masuk WC

Allaahumma innii a’uudzubika minal khubutsi wal khabaa’itsi.

Artinya : Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari syaitan besar laki-laki dan betina. (HR. Bukhari dan Muslim)

18. Do’a Keluar WC

Ghufraanaka. Alhamdulillaahil ladzii adzhaba ‘annjil adzaa wa’aafaanii.

Artinya : Ku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakitku dan telah menyembuhkan/menyelamatkanku. (HR. Abu Daud)

19. Sewaktu Bepergian

Allahumma bika asra’iinu wa ‘alayka atawakkalu. Allaahumma dzallil lii shu’uubata amrii wa sahhil ‘alayya masyaqqata safarii warzuqnii minal khayri aktsara mim maa athlubu washrif ‘ annii kulla syarrin. Rabbisyarahlii shadrii wa yassirlii amrii. Allaahumma innii astahfizhuka wa astawdi’uka nafsii wa diinii wa ahlii wa aqaaribii wa kulla maa an’amta ‘alayya wa ‘alayhim bihi min aakhiratin wa dun-yaa, fahfazhnaa ajma’iina min kulli suu’in yaa kariimu, da’waahum fiihaasubhaanakallahumma wa tahiyyatuhum fitha salaamun, wa aakhiru da’waahum ‘anil hamdu lilaahi rabbil ‘ aalamiiina, wa shallallahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aalihii wa shahbihii wa sallama.

Artinya : Ya Allah, aku memohon pertolongann-Mu dan kepada-Mu aku menyerahkan diri. Ya Allah, mudahkanlah kesulitan urusanku dan gampangkanlah kesukaran perjalananku, berilah padaku rezeki yang baik dan lebih banyak dari apa yang kuminta. Hindarkanlah dariku segala keburukan. Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah segala urusanku.

Ya Allah, kumohon pemeliharaan-Mu dan kutitipkan diriku kepada-Mu, agamaku, keluargaku, kerabatku dan semua yang Engkau ni’matkan padaku dan kepada mereka, semenjak dari akhirat dan dunia. Peliharalah kami semua dari keburukan, Ya Allah Yang Maha Mulia. Do’a mereka (dalam surga) ialah : “Subhaanakallahumma” (artinya : Maha Suci Engkau ya Allah). Ucapan sanjungan mereka di dalamnya ialah : “Salaam” (artinya : keselamatan).

Dan akhir do’a mereka padanya ialah ” “Alhamdulillahi rabbil aalamiin”, (artinya : Segala puji bagi Allah Tuhan seantero alam). Dan semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan kepada Nabi Muhammad saw. Dan kepada keluarganya dan kepada sahabatnya, semoga Allah memberinya keselamatan. (Disebutkan oleh an-Nawawi)

20. Do’a Tiba di Tujuan

Alhamdulillaahil ladzi sallamanii wal ladzii aawaanii wal ladzii jama’asy syamla bii.

Artinya : Segala puji bagi Allah, yang telah menyelamatkan aku dan yang telah melindungiku dan yang mengumpulkanku dengan keluargaku.

21. Do’a Ketika Bercermin

Alhamdulillaahil ladzii sawwaa khalqii fa’addalahu wa karrama shuurata wajhii fahassanahaa waja’alanii minal muslimiina.

Artinya : Segala puji bagi Allah yang menyempurnakan kejadianku dan memperindah dan memuliakan rupaku lalu, membaguskannya dan menjadikan aku orang Islam. (HR. Ibnu as-Sani)

Allaahumma kamaa hassanta khalqii fahassin khuluqii

Artinya : Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pulalah akhlakku. (HR. Ahmad)

22. Do’a Ketika Hendak Berpakaian

Biismilaahirrahmaanirrahiimi. Allaahumma innii as-aluka min khayrihi wa khayri maa huwa lahu wa a’uudzubika min syarrihi wa khayri maa huwa lahu.

Artinya : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan pakaian ini dan dari kebaikan sesuatu yang ada di pakaian ini. Dan aku berlindung pada-Mu dari kejahatan pakaian ini dan kejahatan sesuatu yang ada di pakaian ini.

Alhamdulillahilladzii kasaanii hadzaa wa razaqaniihi min ghayri hawlin minnii wa laa quwatin.

Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan pakaian ini kepadaku dan mengkaruniakannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku. (HR. Ibnu as-Sani)

23. Do’a Ketika Hendak Bersetubuh

Bismillaahi, allahumma jannibnasy syaythaana wa jannibisy syaythaana maa razaqtanaa.

Artinya : Dengan nama Allah, ya Allah; jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami. (HR. Bukhari)

24. Do’a Masuk Pasar

Bismillahi, allahumma innii as-aluka khayra haadzihiz suuqi wa khayra maa fiihaa, wa a’uudzu bika min syarri haadzihis suuqi wa min syarri maa fiithaa. Allahumma innii a’uudzu bika an ushiiba fiihaa yamiinaam faajiratan aw shafagatan khaasiratan.

Artinya : Dengan nama Allah ya Allah aku memohon pada-Mu kebaikan pasar ini dan kebaikan yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pasar ini dan dari keburukan yang ada didalamnya. Dan aku berlindung pada-Mu dari sumpah palsu dan dari suatu pembelian atau penjualan yang merugikan. (HR. Hakim)

Mei 27, 2010 at 3:41 am Tinggalkan komentar

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

oleh : Yusuf Muhammad Al-Hasan

Dan orang-orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteriisteri kami dan keturunan kami kesenangan hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” ( QS. Al-Furqan : 74 )

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras,

tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

(QS. At Tahrim: 6 ).

“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah

jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.”

(HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

PENDAHULUAN

Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul termulia, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Seringkali orang mengatakan: “Negara ini adikuasa, bangsa itu mulia dan kuat, tak ada seorangpun yang berpikir mengintervensi negara tersebut atau menganeksasinya karena

kedigdayaan dan keperkasaannya” .

Dan elemen kekuatan adalah kekuatan ekonomi, militer, teknologi dan kebudayaan. Namun, yang terpenting dari ini semua adalah kekuatan manusia, karena manusia adalah sendi yang menjadi pusat segala elemen kekuatan lainnya. Tak mungkin senjata dapat dimanfaatkan, meskipun canggih, bila tidak ada orang yang ahli dan pandai menggunakannya. Kekayaan, meskipun melimpah, akan menjadi mubadzir tanpa ada orang yang mengatur dan mendayagunakannya untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat.

Dari titik tolak ini, kita dapati segala bangsa menaruh perhatian terhadap pembentukan individu, pengembangan sumber daya manusia dan pembinaan warga secara khusus agar

mereka menjadi orang yang berkarya untuk bangsa dan berkhidmat kepada tanah air. Sepatutnya umat Islam memperhatikan pendidikan anak dan pembinaan individu untuk

mencapai predikat “umat terbaik”, sebagaimana dinyatakan Allah ‘Azza Wa lalla dalam

firman-Nya:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf

dan mencegah dariyang munkar… “. (Surah Ali Imran : 110).

Dan agar mereka membebaskan diri dari jurang dalam yang mengurung diri mereka, sehingga keadaan mereka dengan umat lainnya seperti yang beritakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam :

“Hampir saja umat-umat itu mengerumuni kalian bagaikan orang-orang yang sedang makan

berkerumun disekitar nampan.”. Ada seorang yang bertanya: “Apakah karena kita berjumlah sedikit pada masa itu?” Jawab beliau: “Bahkan kalian pada masa itu berjumlah banyak, akan

tetapi kalian bagaikan buih air bah. Allah niscaya mencabut dari hati musuh kalian rasa takut kepada kalian, dan menanamkan rasa kelemahan dalam dada kalian”. Seorang bertanya: “Ya

Rasulullah, apakah maksud kelemahan itu?” Jawab beliau: “Yaitu cinta kepada dunia dan enggan mati”.

PERANAN KELUARGA DALAM ISLAM

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan

anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama

dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.

Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama

untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.

Musuh-musuh Islam telah menyadari pentingya peranan keluarga ini. Maka mereka pun tak segan-segan dalam upaya menghancurkan dan merobohkannya. Mereka mengerahkan

segala usaha ntuk mencapai tujuan itu. Sarana yang mereka pergunakan antara lain:

1. Merusak wanita muslimah dan mempropagandakan

kepadanya agar meninggallkan tugasnya yang utama

dalam menjaga keluarga dan mempersiapkan generasi.

2. Merusak generasi muda dengan upaya mendidik mereka

di tempat-tempat pengasuhan yang jauh dari keluarga,

agar mudah dirusak nantinya.

3. Merusak masyarakat dengan menyebarkan kerusakan dan

kehancuran, sehingga keluarga, individu dan masyarakat

seluruhnya dapat dihancurkan.

Sebelum ini, para ulama umat Islam telah menyadari pentingya pendidikan melalui keluarga.

Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua

orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang

disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik

dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang temak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya.

Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak

pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”

TUJUAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM

Banyak penulis dan peneliti membicarakan tentang tujuan pendidikan individu muslim.

Mereka berbicara panjang lebar dan terinci dalam bidang ini, hal yang tentu saja bermanfaat.

Apa yang mereka katakan kami ringkaskan sebagai berikut:

” Nyatalah bahwa pendidikan individu dalam islam mempunyai tujuan yang jelas dan tertentu,

yaitu: menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan

tak perlu dinyatakan lagi bahwa totalitas agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah

pada shalat, shaum dan haji; tetapi setiap karya yang dilakukan seorang muslim dengan niat

untuk Allah semata merupakan ibadah.” (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Mu’atstsirat as

Salbiyah fi Tarbiyati at Thiflil Muslim wa Thuruq ‘Ilajiha, hal. 76.

MEMPERHATIKAN ANAK SEBELUM LAHIR

Perhatian kepada anak dimulai pada masa sebelum kelahirannya, dengan memilih isteri yang shalelhah, Rasulullah SAW memberikan nasehat dan pelajaran kepada orang yang hendak berkeluarga dengan bersabda :

” Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi” (HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Begitu pula bagi wanita, hendaknya memilih suami yang sesuai dari orang-orang yang dating melamarnya. Hendaknya mendahulukan laki-laki yang beragama dan berakhlak. Rasulullah

memberikan pengarahan kepada para wali dengan bersabda :

“Bila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawikanlah. Jika tidak kamu lakukan, nisacayaterjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar”

Termasuk memperhatikan anak sebelum lahir, mengikuti tuntunan Rasulullah dalam

kehidupan rumah tangga kita. Rasulullah memerintahkan kepada kita:

“Jika seseorang diantara kamu hendak menggauli isterinya, membaca: “Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau

karuniakan kepada kami”. Maka andaikata ditakdirkan keduanya mempunyai anak, niscaya tidak ada syaitan yang dapat mencelakakannya”.

MEMPERHATIKAN ANAK KETIKA DALAM KANDUNGAN

Setiap muslim akan merasa kagum dengan kebesaran Islam. Islam adalah agama kasih sayang dan kebajikan. Sebagaimana Islam memberikan perhatian kepada anak sebelum kejadiannya, seperti dikemukakan tadi, Islam pun memberikan perhatian besar kepada anak ketika masih menjadi janin dalam kandungan ibunya. Islam mensyariatkan kepada ibu hamil agar tidak berpuasa pada bulan Ramadhan untuk kepentingan janin yang dikandungnya.

Sabda Rasulullah :

“Sesungguhn_ya Allah membebas~an sepan/h shalat bagi orang yang bepergian, dan (membebaskan) puasa bagi orang yang bepergian, wanita menyusui dan wanita hamil”

(Hadits riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i. Kata Al Albani dalam Takhrij al Misykat: “Isnad hadits inijayyid’ )

Sang ibu hendaklah berdo’a untuk bayinya dan memohon kepada Allah agar dijadikan anak yang shaleh dan baik, bermanfaat bagi kedua orangtua dan seluruh kaum muslimin. Karena

termasuk do’a yang dikabulkan adalah do’a orangtua untuk anaknya.

MEMPERHATIKAN ANAK SETELAH LAHIR

Setelah kelahiran anak, dianjurkan bagi orangtua atau wali dan orang di sekitamya melakukan hal-hal berikut:

1. Menyampaikan kabar gembira dan ucapan selamat atas kelahiran.

Begitu melahirkan, sampaikanlah kabar gembira ini kepada keluarga dan sanak famili, sehingga semua akan bersuka cita dengan berita gembira ini. Firman Allah ‘Azza Wa Jalla tentang kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam bersama malaikat:

“Dan isterinya berdiri (di balik tirai lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari lshaq (akan lahir puteranya) Ya ‘qub. “

(Surah Hud : 71).

Dan firman Allah tentang kisah Nabi Zakariya ‘Alaihissalam:

“Kemudian malaikat Jibril memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah mengembirakan kamu dengan kelahiran

(seorang puteramu ) Yahya ” (Ali Imran: 39).

Adapun tahni’ah (ucapan selamat), tidak ada nash khusus dari Rasul dalam hal ini, kecuali apa yang disampaikan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam apabila dihadapkan kepada beliau anak-anak bayi, maka beliau mendo’akan keberkahan bagi mereka dan mengolesi langit-langit mulutnya (dengan korma atau madu )” ( Hadits riwayat Muslim dan Abu Dawud). Abu Bakar bin Al Mundzir menuturkan: Diriwayatkan kepada kami dari Hasan Basri, bahwa seorang laki-laki datang kepadanya sedang ketika itu ada orang yang baru saja mendapat kelahiran anaknya. Orang tadi berkata: Penunggang kuda menyampaikan selamat kepadamu. Hasan pun berkata: Dari mana kau tahu apakah dia penunggang kuda atau himar? Maka orang itu bertanya: Lain apa yang mesti kita ucapkan. Katanya: Ucapkanlah:

“Semoga berkah bagimu dalam anak, yang diberikan kepadamu, Kamu pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dikaruniai kebaikannya, dan dia mencapai kedewasaannya”

( Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Tuhfatul fi Ahkamil Maulud.)

2. Menyerukan adzan di telinga bayi.

Abu Rafi’ Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan:

“Aku melihat Rasulullah memperdengarkan adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fatimah”

( Hadits riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Hikmahnya, Wallahu A’lam, supaya adzan yang berisi pengagungan Allah dan dua kalimat syahadat itu merupakan suara yang pertama kali masuk ke telinga bayi. Juga

sebagai perisai bagi anak, karena adzan berpengaruh untuk mengusir dan menjauhkan syaitan dari bayi yang baru lahir, yang ia senantiasa berupaya untuk mengganggu dan mencelakakannya. Ini sesuai dengan pemyataan hadits:

” Jika diserukan adzan untuk shalat, syaitan lari terbirit-birit dengan mengeluarkan

kentut sampai tidak mendengar seruan adzan” (Ibid)

3. Tahnik (Mengolesi langit-langit mulut).

Termasuk sunnah yang seyogianya dilakukan pada saat menerima kelahiran bayi adalah tahnik, yaitu melembutkan sebutir korma

dengan dikunyah atau menghaluskannya dengan cara yang sesuai lalu dioleskan di langit-langit mulut bayi.

Caranya,dengan menaruh sebagian korma yang sudah lembut di ujung jari lain dimasukkan ke dalam mulut bayi dan digerakkan dengan lembut ke kanan dan ke kiri sampai merata. Jika tidak ada korma, maka diolesi dengan sesuatu yang manis

(seperti madu atau gula). Abu Musa menuturkan:

“Ketika aku dikaruniai seorang anak laki-laki, aku datang kepada Nabi, maka beliau menamainya Ibrahim, mentahniknya dengan korma dan mendo’akan keberkahan baginya, kemudian menyerahkan kepadaku”.

Tahnik mempunyai pengaruh kesehatan sebagaimana dikatakan para dokter. Dr. Faruq Masahil dalam tulisan beliau yang dimuat majalah Al Ummah, Qatar, edisi 50,

menyebutkan: “Tahnik dengan ukuran apapun merupakan mu’jizat Nabi dalam bidang kedokteran selama empat belas abad, agar umat manusia mengenal tujuan dan hikmah di baliknya. Para dokter telah membuktikan bahwa semua anak kecil

(terutama yang baru lahir dan menyusu) terancam kematian, kalau terjadi salah satu dari dua hal:

a. Jika kekurangan jumlah gula dalam darah (karena kelaparan).

b. Jika suhu badannya menurun ketika kena udara dingin di sekelilingnya.”‘

4. Memberi nama.

Termasuk hak seorang anak terhadap orangtua adalah memberi nama yang baik.

Diriwayatkan dari Wahb Al Khats’ami bahwa Rasulullah bersabda:

” Pakailah nama nabi-nabi, dan nama yang amat disukai Allah Ta’ala yaitu Abdullah

dan Abdurrahman, sedang nama yang paling manis yaitu Harits dan Hammam, dan

nama yang sangat jelek yaitu Harb dan Murrah” ( HR.Abu Daud An Nasa’i)

Pemberian nama merupakan hak bapak.Tetapi boleh baginya menyerahkan hal itu kepada ibu. Boleh juga diserahkan kepada kakek, nenek,atau selain mereka.

Rasulullah merasa optimis dengan nama-nama yang baik. Disebutkan Ibnul Qayim

dalam Tuhfaful Wadttd bi Ahkami Maulud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi

wasalam tatkala melihat Suhail bin Amr datang pada hari Perjanjian Hudaibiyah

beliau bersabda: “Semoga mudah urusanmu”

Dalam suatu perjalanan beliau mendapatkan dua buah gunung, lain beliau bertanya

tentang namanya. Ketika diberitahu namanya Makhez dan Fadhih, beliaupun

berbelok arah dan tidak melaluinya.( Ibnu Qayim Al Jauziyah, Tuhfatul Wadud, hal.

41.)

Termasuk tuntunan Nabi mengganti nama yang jelek dengan nama yang baik. Beliau

pernah mengganti nama seseorang ‘Ashiyah dengan Jamilah, Ashram dengan

Zur’ah. Disebutkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan :”Nabi mengganti nama ‘Ashi,

‘Aziz, Ghaflah, Syaithan, Al Hakam dan Ghurab. Beliau mengganti nama Syihab

dengan Hisyam, Harb dengan Aslam, Al Mudhtaji’ dengan Al Munba’its, Tanah

Qafrah (Tandus) dengan Khudrah (Hijau), Kampung Dhalalah (Kesesatan) dengan

Kampung Hidayah (Petunjuk), dan Banu Zanyah (Anak keturunan haram) dengan

Banu Rasydah (Anak keturunan balk).” (Ibid)

5. Aqiqah.

Yaitu kambing yang disembelih untuk bayi pada hari ketujuh dari kelahirannya.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Salman bin Ammar Adh Dhabbi, katanya:

Rasulullah bersabda:

“Setiap anak membawa aqiqah, maka sembelihlah untuknya dan jauhkanlah

gangguan darinya” (HR. Al Bukhari.)

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha,bahwaRasulullah bersabda:

“Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sebanding, sedang untuk anak

perempuan seekor kambing” (HR. Ahmad dan Turmudzi).

Aqiqah merupakah sunnah yang dianjurkan. Demikian menurut pendapat yang kuat

dari para ulama. Adapun waktu penyembelihannya yaitu hari ketujuh dari kelahiran.

Namun, jika tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh boleh dilaksanakan kapan

saja, Wallahu A’lam.

Ketentuan kambing yang bisa untuk aqiqah sama dengan yang ditentukan untuk

kurban. Dari jenis domba berumur tidak kurang dari 6 bulan, sedang dari jenis

kambing kacang berumur tidak kurang dari 1 tahun, dan harus bebas dari cacat.

6. Mencukur rambut bayi dan bersedekah perak seberat timbangannya.

Hal ini mempunyai banyak faedah, antara lain: mencukur rambut bayi dapat

memperkuat kepala, membuka pori-pori di samping memperkuat indera penglihatan,

pendengaran dan penciuman. (Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Auladfil Islam, juz

1.)

Bersedekah perak seberat timbangan rambutnya pun mempunyai faedah yang jelas.

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, katanya:

“Fatimah Radhiyalllahu ‘anha menimbang rambut Hasan, Husein, Zainab dan Ummu

Kaltsum; lalu ia mengeluarkan sedekah berupa perak seberat timbangannya (HR.

Imam Malik dalam Al Muwaththa’)

7. Khitan.

Yaitu memotong kulup atau bagian kulit sekitar kepala zakar pada anak laki-laki, atau

bagian kulit yang menonjol di atas pintu vagina pada anak perempuan. Diriwayatkan

dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

“Fitrah itu lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong

kuku, mencabut bulu ketiak” (HR. Al-bukhari, Muslim)

Khitan wajib hukumnya bagi kaum pria, dan rnustahab (dianjurkar) bagi kaum

wanita.WallahuA’lam.

Inilah beberapa etika terpenting yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh orangtua atau

pada saat-saat pertama dari kelahiran anak.

Namun, di sana ada beberapa kesalahan yang terjadi pada saat menunggu kedatangannya

Secara singkat, antara lain:

A. Membacakan ayat tertentu dari Al Qur’an untuk wanita yang akan melahirkan; atau

menulisnya lalu dikalungkan pada wanita, atau menulisnya lalu dihapus dengan air

dan diminumkan kepada wanita itu atau dibasuhkan pada perut danfarji

(kemaluan)nya agar dimudahkan dalam melahirkan. ltu semua adalah batil, tidak ada

dasamya yang shahih dari Rasulullah, Akan tetapi bagi wanita yang sedang

menahan rasa sakit karena melahirkan wajib berserah diri kepada Allah agar

diringankan dari rasa sakit dan dibebaskan dari kesulitannya Dan ini tidak

bertentangan dengan ruqyah yang disyariatkan.

B. Menyambut gembira dan merasa senang dengan kelahiran anak laki-laki, bukan

anak perempuan.

Hal ini termasuk adat Jahiliyah yang dimusuhi Islam. Firman Allah yang berkenaan

dengan mereka:

“Apabila seseorang dari merea diberi kabar dengan (kelahiran) anak, perempuan,

hitamlah (merah padamlah) matanya, dan dia sangat marah; ia menyembunyikan

dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan padanya.

Apakah dia akan memeliharannya dengan menanggumg kehinaan ataukah akan

menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya

apa yang telah mereka lakukan itu”(Surah An Nahl : 58-59).

Mungkin ada sebagian orang bodoh yang bersikap berlebihan dalam hal ini dan

memarahi isterinya karena tidak melahirkan kecuali anak perempuan. Mungkin pula

menceraikan isterinya karena hal itu, padahal kalau dia menggunakan akalnya,

semuanya berada di tangan Allah ‘Azza wa lalla. Dialah yang memberi dan menolak.

Firman-Nya:

Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan

kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa

yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kepada siapa yang dia kehendaki-

Nya, dan dia menjadikan Mandul siapa yang Dia kehendaki…” (Surah Asy Syura

:49-50).

Semoga Allah memberikan petunjukkepada seluruh kaum Muslimin.

C. Menamai anak dengan nama yang tidak pantas.Misalnya, nama yang bermakna

jelek, atau nama orang-orang yang menyimpang seperti penyanyi atau tokoh kafir.

Padahal menamai anak dengan nama yang baik merupakan hak anak yang wajib

atas walinya.

Termasuk kesalahan yang berkaitan dengan pemberian nama, yaitu ditangguhkan

sampai setelah seminggu.

D. Tidak menyembelih aqiqah untuk anak padahal mampu melakukannya. Aqiqah

merupakan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam, dan mengikuti tuntunan beliau

adalah sumber segala kebaikan.

E. Tidak menetapi jumlah bilangan yang ditentukan untuk aqiqah. Ada yang

mengundang untuk acara aqiqah semua kenalannya dengan menyembelih 20 ekor

kambing, ini merupakan tindakan berlebihan yang tidak disyariatkan. Ada pula yang

kurang dari jumlah bilangan yang ditentukan, dengan menyembelih hanya seekor

kambing untuk anak iaki-laki, inipun menyalahi yang disyariatkan. Maka hendaklah

kita menetapi sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wasalam tanpa menambah ataupun

mengurangi.

F. Menunda khitan setelah akil baligh.Tradisi ini dulu terjadi pada beberapa suku,

seorang anak dikhitan sebelum kawin dengan cara yang biadab di hadapan orang

banyak.

Itulah sebagian kesalahan, dan masih banyak lainnya. Semoga cukup bagi kita dengan

menyebutkan etika dan tata cara yang dituntunkan ketika menerima kelahiran anak. Karena

apapun yang bertentangan dengan hal-hal tersebut, termasuk kesalahan yang tidak

disyariatkan. (Disarikan dari kitab Adab Istiqbal al Maulud fil Islam, oleh ustadz Yusuf

Abdullah al Arifi)

MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA ENAM TAHUN PERTAMA

Periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang

amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam

dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periede ini,

nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengannyata pada kepribadiannya ketika menjadi

dewasa. (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah.)

Karena itu, para pendidik perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam

periode ini.

Aspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dapat kami ringkaskan sebagai

berikut:

1. Memberikan kasih sayang yang diperlukan anak dari pihak kedua orangtua, terutama ibu.

Ini perlu sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cintakasih

ini,maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya.

“Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti

menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang

dan perlindungan. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya

dalam perasaan-perasaan ini, yang dikaruniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya

dalam diri ibu, yang memancar dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan anak.”

(Muhammad Quthub,Manhaiut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2.)

Maka sang ibu hendaklah senantiasa memperhatikan hal ini dan tidak sibuk dengan kegiatan

karir di luar rumah, perselisihan dengan suami atau kesibukan lainnya.

2. Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal kehidupannya.

Kami kira, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Telah terbukti bahwa membiasakan anak

untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap, sesuatu yang mungkin

meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih

dengan hal ini.

Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak, sehingga

mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang.

3. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan

kehidupannya.

Yaitu dengan menetapi manhaj Islam dalam perilaku mereka secara umum dan dalam

pergaulannya dengan anak secara khusus. Jangan mengira karena anak masih kecil dan

tidak mengerti apa yang tejadi di sekitarnya, sehingga kedua orangtua melakukan tindakantindakan

yang salah di hadapannya. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi

anak. “Karena kemampuan anak untuk menangkap, dengan sadar atau tidak, adalah besar

sekali. Terkadang melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk

kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang, sekalipun ia tidak mengetahui apa yang

dilihatnya, itu semua berpengaruh baginya. Sebab, di sana ada dua alat yang sangat peka

sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru, meski kesadarannya mungkin

terlambat sedikit atau banyak.

Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Anak akan menangkap secara

tidak sadar, atau tanpa kesadaran puma, dan akan meniru secara tidak sadar, atau tanpa

kesadaran purna, segala yang dilihat atau didengar di sekitamya.” (Ibid.)

4. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya.

Antara lain: (Silahkan lihat Ahmad Iuuddin Al Bayanuni,MinhajAt TarbiyahAsh Shalihah.)

· Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika

makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan

kanannya secara halus.

· Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan

kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai

dari kiri.

· Dilarang tidur tertelungkup dandibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan.

· Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh

dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.

· Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya.

· Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.

· Dilarang bermain dengan hidungnya.

· Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.

· Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan

sebelum orang lain.

· Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang

makan.

· Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan

dengan baik.

· Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.

· Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah

makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.

· Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang

disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak

familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang

menikmati sesuatu makanan atau permainan.

· Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali

setiap hari.

· Dibiasakan membaca “AZhamdulillah” jika bersin, dan mengatakan “Yarhamukallah”

kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”.

· Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai

bersuara.

· Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.

· Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil

dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak).

· Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua

darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati

mereka.

· Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan.

· Tidak membuang sampah dijalanan, bahkan menjauhkan kotoran darinya.

· Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan

mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang

mengucapkannya.

· Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.

· Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika

disuruh sesuatu yang diperbolehkan.

· Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela,

jika memungkinkan. Tapi kalau tidak, dipaksa untuk menerima kebenaran, karena hal

ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel.

· Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti

perintah dan menjauhi larangan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang

disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.

· Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan

permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena

permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal

anak.

· Ditanamkan kepada anak agar senang pada alat permainan yang dibolehkan seperti

bola, mobil-mobilan, miniatur pesawat terbang, dan lain-lainnya. Dan ditanamkan

kepadanya agar membenci alat permainan yang mempunyai bentuk terlarang seperti

manusia dan hewan.

· Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan

ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya

sendiri.

MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA SETELAH ENAM TAHUN PERTAMA

Pada periode ini anak menjadi lebih siap untuk belajar secara teratur. Ia mau menerima

pengarahan lebih banyak, dan lebih bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman

sepermainannya. Dapat kita katakan, pada periode ini anak lebih mengerti dan lebih

semangat untuk belajar dan memperoleh ketrampilan-ketrampilan, karenanya ia bisa

diarahkan secara langsung. Oleh sebab itu, masa ini termasuk masa yang paling penting

dalam pendidikan dan pengarahan anak.

Kita, Insya Allah, akan membicarakan tentang aspek-aspek terpenting yang perlu

diperhatikan oleh para pendidik pada periode ini. Yaitu:

1. Pengenalan Allah dengan cara yang sederhana.

Pada periode ini dikenalkan kepada anak tentang Allah ‘Azza Wajalla dengan cara yang

sesuai dengan pengertian dan tingkat pemikirannya.

Diajarkan kepadanya:

· Bahwa Allah Esa, tiada sekutu bagi-Nya.

· Bahwa Dialah Pencipta segala sesuatu. Pencipta langit, bumi, manusia, hewan,

pohon-pohonan, sungai dan lain-lainnya. Pendidik dapat memanfaatkan situasi

tertentu untuk bertanya kepada anak, misalnya ketika bejalan-jalan di taman atau

padang, tentang siapakah Pencipta air, sungai,bumi,pepohonan dan lain-lainnya,

untuk menggugah perhatiannya kepada keagungan Allah.

· Cinta kepada Allah, dengan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang dikaruniakan

Allah untuknya dan untuk keluarganya. Misalnya, anak ditanya: Siapakah yang

memberimu pendengaran, penglihatan dan akal? Siapakah yang memberimu

kekuatan dan kemampuan untuk bergerak? Siapakah yang memberi rizki dan

makanan untukmu dan keluargamu? Demikianlah, ditunjukkan kepadanya nikmatnikmat

yang nyata dan dianjurkan agar cinta dan syukur kepada Allah atas nikmat

yang banyak ini. Metode ini disebutkan dalam Al Qur’an, dalam banyak ayat Allah

menggugah minat para hamba-Nya agar memperhatikan segala nikmat yang

dikaruniakan-Nya, seperti firman-Nya:

“Tidakkah kamu perhatian sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk

kepentinganmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempumakan

untukmu nikmatnya lahir dan batin…”(Surah Luqman : 20).

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu Adakah pencipta selain Allah

yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi….”(Surah Fathir :3).

Dan dengan rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu

beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dai karunia-Nya

(pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepadan-Nya.” (Surah Al Qashash : 73).

2. Pengajaran sebagian hukum yang jelas dan tentang halal-haram.

Diajarkan kepada anak menutup aurat, berwudhu, hukum-hukum thaharah (bersuci) dan

pelaksanaan shalat. Juga dilarang dari hal-hal yang haram, dusta, adu domba, mencuri dan

melihat kepada yang diharamkan Allah. Pokoknya, disuruh menetapi syariat Allah

sebagaimana orang dewasa dan dicegah dari apa yang dilarang sebagaimana orang

dewasa, sehingga anak akan tumbuh demikian dan menjadi terbiasa. Karena bila semenjak

kecil anak dibiasakan dengan sesuatu, maka kalau sudah dewasa akan menjadi

kebiasaannya.

Agar diupayakan pula pengajaran ilmu pengetahuan kepada anak, sebagaimana kata Sufyan

Al Tsauri: “Seorang bapak barns menanamkan ilmu pada anaknya, karena dia pmanggung

jawabnya.” (Muhammad Hasan Musa, Nuzharul Fudhala’ Tahdzib Siar A’lamin Nubala :Juz 1.)

3. Pengajaran baca Al Qur’an.

Al Qur’an adalah jalan lurus yang tak mengandung suatu kebatilan apapun. Maka amat baik

jika anak dibiasakan membaca Al Qu~an dengan benar, dan diupayakan semaksimalnya

agar mengbafal Al Qur’an atau sebagian besar darinya dengan diberi dorongan melalui

berbagaicara. Karena itu, kedua orangtua bendaklah berusaha agar putera puterinya masuk

pada salah satu sekoiah tahfizh Al Qur’an; kalau tidak bisa, diusahakan masuk pada salah

satu halaqah tahfizh. Diriwayatkan Abu Dawud dari Mu’adz bin Anas bahwa Nabi shallallahu

alaihi wasalam bersabda:

“Barang siapa membaca Al-quran dan mengamalkan kandungan isinya, niscaya Allah pada

hari kiamat mengenakan kepada keda orang tuanya sebuah mahkota yang cahayanya lebih

indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Maka apa pendapatmu tentang

orang yang mengamalkan hal ini”.

Para salaf dahulu pun sangat memperhatikan pendidikan tahfizh Al Qur’an bagi anak-anak

mereka. Syaikh Yasin bin Yusuf Al Marakisyi menceritakan kepada kita tentang imam

AnNawawi, Rahimahullah, katanya: “Aku melihat beliau ketika masih berumur 10 tahun di

Nawa. Para anak kecil tidak mau bermain dengannya dan iapun berlari dari mereka seraya

menangis, kemudian ia membaca Al Qur’an. Maka tertanamlah dalam hatiku rasa cinta

kepadanya. Ketika itu bapaknya menugasinya menjaga toko, tetapi ia tidak mau bejualan dan

menyibukkan diri dengan Al Qur’an. Maka aku datangi gurunya dan berpesan kepadanya

bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang yang paling alim dan zuhud pada zamannya

serta bermanfaat bagi umat manusia. Ia pun berkata kepadaku:

Tukang ramalkah Anda? Jawabku: Tidak, tetapi Allah-lah yang membuatku berbicara tentang

hal ini. Bapak guru itu kemudian menceritakan kepada orangtuanya, sehingga

memperhatikan beliau dengan sungguh-sungguh sampai dapat khatam Al Qur’an ketika

menginjak dewasa.”

4, Pengajaran hak-hak kedua orangtua,

Diajarkan kepada anak untuk bersikap hormat, taat dan berbuat baik kepada kedua

orangtua, sehingga terdidik dan terbiasa demikian. Anak sering bersikap durhaka dan

melanggar hak-hak orangtua disebabkan karena kurangnya perhatian orangtua dalam

mendidik anak dan tidak membiasakannya berbuat kebaikan sejak usia dini.

Firman Allah Ta’ala :

‘Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan

hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang

diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka

sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah

kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan

rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesanyangan dan ucapkanlah:

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik

aku waktu kecil.” (Surah Al-Isra’: 23-24).

Diriwayatkan dari Abu HurairahRadhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi bersabda:

“Terhinalah, terhinalah, dan terhinalah seseorang yang mendapatkan salah seorang dari

kedua orang tuanya atau kedua-duanya berusia lanjut, tetapi tidak dapat masuk surga”

Berikut ini kisah seorang anak muda yang berbuat baik kepada bapaknya, disebutkan dalam

kitab ‘Uyunul Akhbar : “Al Ma’mun rahimahullah berkata: Belum pernah saya melihat

seseorang yang amat berbuat baik kepada bapaknya daripada Al Fadhl bin Yahya. Karena

kebaikannya, sampai bapaknya (Yahya) tidak berwudhu kecuali dengan air hangat. Ketika

keduanya berada dalam penjara, para sipir melarang memasukkan kayu bakar di malam

yang ding-in. Maka Al Fadhl, ketika bapaknya tidur, bangun mengambil teko yang biasa dia

pergunakan untuk memanaskan air, lalu ia isi air dan ia dekatkan pada api lampu. Ia pun

tetap berdiri memegangi teko sampai pagi. Ia lakukan hal ini untuk berbuat baik kepada

bapaknya agar dapat berwudhu dengan air hangat.”

5. Pengenalan tokoh-tokoh teladan yang agung dalam Islam.

Tokoh teladan kita yang utama yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam, kemudian para

sahabat yang mulia Radhiallahu ‘Anhum dan pengikut mereka dengan baik yang menjadi

contoh terindah dalam segala aspek kehidupan. Maka dikenalkan kepada anak tentang

mereka, diajarkan sejarah dan kisah mereka supaya meneladani perbuatan agung mereka

dan mencontoh sifat baik mereka seperti keberanian, keprajuritan, kejujuran, kesabaran,

kemuliaan, keteguhan pada kebenaran dan sifat-sifat lainnya.

Kisah atau kejadian yang diceritakan kepada anak hendaklah sesuai dengan tingkat

pengertiannya, tidak membosankan, dan difokuskan pada penampilan serta penjelasan

aspek-aspek yang baik saja sehingga mudah diterima oleh anak.

Misalnya, diceritakan kepada anak kisah Rasulullah bersama orang Yahudi yang menuntut

kepada beliau agar membayar uang pinjamannya, sebagai contoh akhlak baik beliau:

Diriwayatkan bahwa ada seorang Yahudi yang meminjamkan uang kepada Rasulullah lalu

hendak menagih hutangnya sebelum habis masanya. Maka dicegatnya Rasulullah di tengah

jalan kota Madinah seraya berkata: “Sungguh, kalian anak keturunan Abdul Muthalib adalah

orang-orang yang suka menangguhkan /bayarhutang)”

Umar pun melihat kejadian itu dan amat marah, lalu berkata: “Izinkanlah aku wahai

Rasulullah, biar kupenggal lehernya!” Tapi Nabi bersabda: “Aku dan kawanku sangat tidak

menginginkan hal itu, wahai Umar. Suruhlah ia berperkara dengan baik dan suruhlah aku

menyelesaikan dengan baik.”

Kemudian beliau berpaling kepada orangYahudi dan bersabda: “Hai Yahudi, piutangmu akan

dibayarkan besok.””

Contoh kisah tentang keberanian dan ketabahan, diriwayatkan oleh Mu’adz bin Amr katanya:

Pada waktu Perang Badar kujadikan Abu Jahal sebagai sasaranku. Begitu ada kesempatan,

aku serang dia dan kupukul sehingga terpotong separuh betis kakinya. Sementara, anaknya

Ikrimah bin Abu Jahal memukulku pada lengan hingga terputus tanganku tetapi masih

menempel dengan kulit pada sisiku. Namun peperangan membuatku tak perduli dengannya,

karena aku ketika ifu berperang sepanjang hari sambil menyeret tanganku dibelakang.

Setelah terasa sakit karenanya, kuletakkan kakiku di.atasnya ialu kutarik hingga terputus.”

Sejarah umat Islam penuh dengan tokoh-tokoh agung dan kisah-kisah menarik yang

menunjukkan keutamaan dan makna yang indah.

6. Pengajaran etiket umum.

Seperti etiket mengucapkan salam dan meminta izin, etiket berpakaian, makan dan

nninum,etiket berbicara dan bergaul dengan orang lain. Juga diajarkan bagaimana bergaul

dengan kedua orangtua, sanak famili yang tua, kolega orangtua, guru-gurunya, kawankawannya

dan teman sepermainannya.

Diajarkan pula mengatur kamamya sendiri, menjaga kebersihan rumah, menyusun alat

bermain, bagaimana bermain tanpa mengganggu orang lain dan bagaimana bertingkah laku

di masjid dan disekolahan.

Pegajaran berbagai hal di atas dan juga lainnya pertama-tama harus bersumber kepada

Sunnah Rasulullah , lalu peri kehidupan para salaf yang shaleh, kemudian karya tulis para

pakar dalam bidang pendidikan dan tata pergaulan.

7. Pengembangan rasa percaya diri dan tanggung jawab dalam diri anak.

Anak-anak sekarang ini adalah pemimpin hari esok. Karena itu, harus dipersiapkan dan

dilatih mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang nantinya akan mereka

lakukan.

Hal itu bisa direalisasikan dalam diri anak melalui pembinaan rasa percaya diri, penghargaan

jati dirinya, dan diberikan kepada anak kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dan

apa yang terbetik dalam pikirannya, serta diberikan kepadanya dorongan agar mengerjakan

urusannya sendiri, bahkan ditugasi dengan pekejaan rumah tangga yang sesuai untuknya.

Misalnya, disuruh untuk membeli beberapa keperluan rumah dari warung terdekat; anak

perempuan diberi tugas mencuci piring dan gelas atau mengasuh adik. Pemberian tugas

kepada anak ini bertahap sedikit demi sedikit sehingga mereka terbiasa mengemban

tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang sesuai bagi mereka.

Termasuk pemberian tanggung jawab kepada anak, ia harus menanggung resiko perbuatan

yang dilakukannya. Maka diajarkan kepada anak bahwa ia bertanggung jawab atas

kesalahan yang dilakukannya serta dituntut untuk memperbaiki apa yang telah dirusaknya

dan meminta maaf atas kesalahannya.

Perhatikan kisah berikut yang menunjukkan rasa percaya diri: Diriwayatkan oleh Al Hafizh

Ibnu Asakir, ketika Abdullah bin Az Zubair sedang bernain-main dengan anak-anak

sebayanya, lewatlah khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhtr.

Maka larilah semua anak karena takut kepada beliau, kecuali Abdullah bin Az Zubair yang

masih tinggal di tempat. Lalu Umar menghampirinya dan bertanya kepadanya: “Kenapa kamu

tidak lari bersama teman-temanmu,nak?” Dengan berani dan tenang Abdullah menjawab: “Ya

Amirul Mu’minin!

Aku bukan seorang yang bersalah sehingga harus takut, dan jalan pun tidak sempit sehingga

aku harus minggir.

Seorang anak jika terdidik untuk percaya diri akan mampu mengemban tanggung jawab yang

besar. Sebagaimana putera-putera para sahabat, mereka berusaha sungguh-sungguh agar

dapat ikut bersama para mujahidin Fisabilillah; sampai salah seorang di antara mereka ada

yang menangis karena Rasulullah belum mengizinkannya ikut berperang bersama pasukan,

tetapi karena simpati terhadapnya beliau pun mengizinkannya; dan akhimya ia termasuk

salah satu syuhada dalam peperangan itu.

Rasulullah juga pernah mengangkat Usamah bin Zaid sebagai komandan pasukan yang di

antara anggotanya terdapat Abu Bakar dan Umar, sekalipun masih muda belia tetapi ia orang

yang tepat untuk jabatan itu. Lalu, di manakah anak-anak kita sekarang ini yang mampu

menduduki puncak yang tinggi?

MEMPERHATIKAN. ANAK PADA MASA REMAJA

Pada masa ini pertumbuhan jasmani anak menjadi cepat, wawasan akalnya bertambah luas,

emosinya menjadi kuat dan semakin keras, serta naluri seksualnya pun mulaibangkit.

Masa ini merupakan pendahuluan masa baligh.Karena itu, para pendidik perlu memberikan

perhatian terhadap masalah-masalah berikut dalam menghadapi remaja:

1. Hendaknya anak, putera maupun puteri, merasa bahwa dirinya sudah dewasa

karena ia sendiri menuntut supaya diperlakukan sebagai orang dewasa, bukan

sebagai anak kecil lagi.

2. Diajarkan kepada anak hukum-hukum akilbaligh dan diceritakan kepadanya kisahkisah

yang dapat mengembangkan dalam dirinya sikap takwa dan menjauhkan diri

dari hal yang haram.

3. Diberikan dorongan untuk ikut serta melaksanakan tugas-tugas rumah tangga,

seperti melakukan pekerjaan yang membuatnya merasa bahwa dia sudah besar.

4. Berupaya mengawasi anak dan menyibukkan waktunya dengan kegiatan yang

bermanfaat serta mancarikan teman yang baik.

BEBERAPA KESALAHAN PARA PENDIDIK

Berikut ini sebagian kesalahan yang sering dilakukan oleh para pendidik. Semoga Allah

memberikan maunah (pertolongan)-Nya kepada kita untuk dapat menjauhinya dan

menunjukkan kita kepada kebenaran.

1. Ucapan pendidik tidak sesuai dengan perbuatan.

Ini merupakan kesalahan terpenting karena anak belajar dari orangtua beberapa hal.

tetapi ternyata bertentangan dengan apa yang telah diajarkannya. Tindakan ini

berpengaruh buruk terhadap mental dan perilaku anak. Allah Azza Wa Jalla mencela

perbuatan ini dengan firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu

perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang

tidak kamu kerjakan” (SurahAshShaff:2-3).

Bagaimana anak akan belajar kejujuran kalau ia mengetahui orang tuanya berdusta?

Bagaimana anak akan belajar sifat amanah sementara ia melihat bapaknya menipu ?

Bagaimana anak akan belajar akhlak baik bila orang sekitamya suka mengejek,

berkata jelek dan berakhlak buruk?

2. Kedua orangtua tidak sepakat atas cara tertentu dalam pendidikan anak.

Kadangkala seorang anak melakukan perbuatan tertentu di hadapan kedua orangtua.

tetapi akibatnya sang ibu memuji dan mendorong sedang sang bapak

memperingatkan dan mengancam. Anak akhimya menjadi bingung mana yang benar

dan mana yang salah di antara keduanya. Dengan pengertiannya yang masih

terbatas, ia belum mampu membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga

hal itu akan mengakibatkan anak menjadi bimbang dan segala urusan tidak jelas

baginya.

Sementara, kalau kedua orangtua mempunyai cara yang sama dan tidak

memujukkan perbedaan ini, niscaya tidak terjadi kerancuan tersebut.

3. Membiarkan anak jadi korban televisi.

Media massa mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perilaku dan perbuatan

anak dan media paling berbahaya adalah televisi. Hampir tidak ada rumah yang tidak

mempunyai televisi. Padahal pengaruhnya demikian luas terhadap anak maupun

orang dawasa, terhadap orang-orang berpengetahuan maupun yang terbatas

pengetahuannya Plomery, seorang peneliti mengatakan: “Anak pada umumnya, dan

kebanyakan orang dewasa, cenderung menerima.tanpa mempertanyakan segala

informasi yang tampil di film-film dan kelihatan realistis. Mereka dapat mengingat

materinya dengan cara yang lebih baik … maka akal pikiran mereka menelan begitu

saja nilai-nilai yang rendah itu.

Banyak pendidik yang tidak menaruh perhatian bahwa anak mereka kecanduan

menonton televisi. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlak dan fithrah

mereka, sampai apa yang dinamakan dengan acara anak-anak punpenuh dengan

pemikiran-pemikiran keji yang diperoleh anak melalui acara yang ditayangkan.

Banyak film kartun yang berisi kisah cinta dan roman … sampai diantara anjing atau

binatang lainnya. Tidakkah Anda melihat bagaimana seekor kucing betina dalam

acara itu – ditampilkan sangat anggun … berdandan dengan bulu mata panjang

dan mata yang bercelak indah … serta buah dada yang montok … berlenggak

lenggok untuk menggaet hati sang kucing jantan.”

Penampilan perang tanding untuk wanita, juga mabuk-mabukan merokok, mencuri,

melakukan tipu muslihat, berdusta dan sifat-sifat lainnya yang tidak sopan…

Tayangan ini semua menyerbu dunia anak dan menodai fithrah yang suci dengan

dalih acara anak-anak”.

Oleh karena itu anak-anak kita harus dilindungi dari perangkat yang merusak ini. Hal

ini, tak diragukan lagi, bukan sesuatu yang mudah tetapi juga tidak mustahil, jika kita

ingin menjaga akhlak putera-puteri kita dan mempersiapkan mereka untuk

mengemban misi agama dan umat. Semoga Allah melimpahkan ma’unah-Nya

kepada kita.

4. Menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada pembantu atau

pengasuh.

Kesalahan yang amat serius danbanyak tejadi di masyarakat kita adalah fenomena

kesibukan ibu dari peran utamanya merawat rumah dan anak-anak dengan hal-hal

yang tentunya tak kalah penting dari pendidikan anak. Misalnya, sibuk dengan karir di

luar rumah, atau sering mengadakan kunjungan, menghadiri pertemuan, atau hanya

karena malas-malasan dan tidak mau menangani langsung urusan anak. Padahal ini

sangat berpengaruh terhadap kejiwaan anak dan nilai-nilai yang diserapnya Sebab,

“Anak kecil adalah orang pertama yang dirugikan dengan keluamya ibu dari rumah

untuk berkarir. Ia akan kehiLangan kasih sayang, sebab sang ibu membiarkannya

dalam perawatan wanita lain seperti pembantu, atau membawanya ke tempat

pengasuhan. Dan bagaimanapun, anak akan kehilangan kasih sayang ibu. Ini

berbahaya sekali terhadap kejiwaan anak dan masa depannya, karena anak

berkembang tanpa kasih sayang. jika anak miskin kasih sayang, ia pun akan

bertindak keras terhadap para anggota masyarakatnya, akibatnya masyarakat hidup

dalam kehancuran, keretakan dan kekerasan. Teryata, orang lain tidak menaruh

perhatian untuk membina anak dan mendidiknya berakhlak mulia sebagaimana yang

dilakukan keluarganya. Hal ini mendatangkan mala petaka bagi anak dan

masyarakat.”

Terkadang pembantunya adalah orang kafir, akibatnya si anak pun terpengaruh

dengan akidah yang menyimpang atau akhlak yang rusak yang didapatkan darinya.

Maka, jika kita terpaksa mengambil pembantu, usahakanlah mendapat pembantu

muslimah yang baik dan usahakan tidak bersama anak kecuali sebentar saja dalam

keadaan terpaksa.

5. Pendidik menampakkan kelemahannya dalam mendidik anak.

Ini banyak tejadi pada ibu-ibu dan kadangkala terjadi pada bapak-bapak. Kita

dapatkan, misalnya, seorang ibu berkata: “Anak ini mengesalkan. Aku tidak sanggup.

Tak tahu, apa yang kuperbuat dengannya. Padahal anak mendengarkan ucapan ini

maka ia pun merasa bangga dapat mengganggu ibunya dan membandel karena

dapat menunjukkan keberadaannya dengan cara itu.

6. Berlebihan dalam memberi hukuman dan balsan.

a. Hukuman:

Hukuman adalah sesuatu yang disyariatkan dan termasuk salah satu sarana

pendidikan yang berhasil yang sesekali mungkin diperlukan pendidik.

Namun ada yang sangat berlebihan dalam menggunakan sarana ini,

sehingga membuat sarana itu berbahaya dan berakibat yang sebaliknya.

Seperti kits mendengar ada orangtua yang menahan anaknya beberapa jam

dikamar yang gelap jika melakukan kesalahan; ada juga yang mengikat

anaknya jika berbuat sesuatu hal yang mengganggunya.

Hukuman bertingkat-tingkat, mulai dari pandangan yang mempunyai arti

hingga hukuman berupa pukulan. Pendidik mungkin perlu menggunakan

hukuman yang lebih dari pada sekedar pandangan yang memojokkan atau

kata-kata celaan bahkan mungkin terpaksa menggunakan hukuman berupa

pukulan; namun ini merupakan penyelesaian akhir, tidak diperlukan kecuali

jika tidak ada cara lain.

Ada beberapa kaidah dalam penggunaan hukuman berupa pukulan antara

lain:

§ Tidak dipergunakan )rukuman ini kecuali jika tidak ada cara laIn lagi.

§ Pendidik tidak balehmemukul ketika dalam keadaan marah sekali,

karena dikhawatirkan akan membahayakan anak.

§ Tidak memukul pads bagian-bagian yang menyakitkan, seperti:

wajah, kepala dan dada.

§ Pukulan pada tahap-tahap pertama hukuman tidak keras dan tidak

menyakitkan serta tidak boleh lebih dari tiga kali pukulan, kecuali bila

terpaksa dan tidak melebihi sepuluh kali pukulan.

§ Tidak boleh dipukul anak yang berumur di bawah sepuluh tahun.

§ Jika kesalahan anak baru pertama kali ia diberi kesempatan

bertobat dan minta maaf atas perbuatannya. Juga dibuat supaya ada

penengah yang kelihatannya mengusahakan pemaafan baginya

setelah berjanji tidak mengulangi.

§ Hendaklah pendidik sendiri yangmemukul anak, tidak

menyerahkannya kepada salah satu saudara atau temannya karena

ini dapat menimbulkan kebarian dan kedengkiannya terhadap anak

lain yang ikut menghukumnya.

§ Jika anak menginjak usia dewasa dan pendidik berpendapat

bahwa sepuluh kali pukulan tidak cukupmembuat jera anak, maka

pendidik boleh menambahnya.

7. Berusaha mengekang anak secara berlebihan.

Yaitu tidak diberi kesempatan bermain bercanda dan bergerak ini bertentangan

dengan tabiat anak dan bisa membahayakan kesehatannya, karena permainan

penting bagi pertumbuhan anak dengan baik. “Permainan di tempat yang bebas dan

luas termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan jasmani anak dan

menjaga kesehatannya·”

Maka orangtua seyogianya tidak mencegah anak-anak yang sedang asyik bermain

pasir ketika wisata ke tepi pantai atau di tengah padang pasir. Karena itu merupakan

waktu bersenang-senang dan bermain, bukan waktu berdisiplin. Tidak ada waktu

kebebasan bergerak bagi anak-anak kecuali dalam kesempatan wisata yang bebas

seperti ini. Maka sekali-kali mereka harus dibiarkan.

8. Mendidik anak tidak percaya diri dan merendahkan pribadinya.

Sayang ini banyak tejadi di kalangan bapak-bapak; padahal ini berpengaruh jelek

terhadap masa depan anak dan pandangannya pada kehidupan. Karena anak yang

terdidik rendah pribadi dan tidak percaya diri akan tumbuh menjadi penakut lemah

dan tidak mampu menghadapi beban dan tantangan hidup, bahkan setelah dawasa.

Karena itu, seyogianya kita mempersiapkan anak-anak kita untuk dapat

mekksanakan tugas-tugas dien dan dunia. Dan hal ini tidak tercapai kecuali dengan

mendidik mereka memiliki rasa percaya dan harga diri namun tidak sombong dan

takabur; serta senantiasa mengupayakan agar anak dikenalkan kepada hal-hal yang

bernilai tinggi dan dijauhkan dari hal-hal yang bernilai rendah.

Sebagai contoh:

Pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik terjadi kekeringan di daerah Badui

maka berdatanganlah penduduk berbagai suku kepada Hisyam dan berkunjung

kepadanya. Di antara mereka terdapat Dirwas bin Habib, usianya baru 14 tahun.

Mereka pun bertahan diri dan membuat Hisyam takut. Berkatalah Hisyam kepada

penjaganya:

“Siapapun dibiarkan menghadap kepadaku, bahkan hingga anak-anak?”. Dirwas

menyadari bahwa dirinya yang dimaksud, maka iaberkata:”Ya Amirul Mu’minin!

Sungguh kunjunganku tidak bemtaksud merendahkan baginda sedikitpun tapi untuk

memberikan kehormatan bagiku. Dan orang-orang ini datang untuk suatu keperluan

yang membuat mereka bertahan karenanya. Ucapan adalah pengungkapan dan

diam adalah penyembunyian. Ucapan tidak dapat dikenal kecuali dengan

diungkapkan·” Merasa kagum dengan ucapannya lalu berkatalah Hisyam:

“Bagus, ungkapkanlah!” Kata Dirwas: “Ya Amirul Mu’minin! Kami telah ditimpa tiga

kali paceklik:

pertama, mencairkan lemak; kedua, memakan daging: dan ketiga, mengeluarkan

sumsum tulang.

Sedang di tangan baginda ada kelebihan harta kekayaan. Jika itu milik Allah

bagikanlah kepada hamba-hamba Allah yang berhak. Tetapi jika milik hamba-hamba

Allah, maka kenapa baginda tahan?

Dan jika hak milik baginda maka sedekahkanlah kepada mereka, karena

sesungguhnya Allah memberikan pahala kepada orang-orang yang bersedekah dan

tidak melalaikan balasan orang-orang yang berbuat baik. Ketahuilah, Amirul

Mu’minin!

Kedudukan pemimpin dari rakyat ibarat ruh pada jasad, tidak ada kehidupan bagi

jasad kecuali dengannya.” Kata Hisyam: “Anak ini tidak memberi sedikitpun alasan

dalam salah satu dari ketiga hal tersebut.” Kemudian ia perintahkan untuk

membagikan kepada orang-orang Badui 100.000 dirham dan kepada Dirwas 100.000

dirham. Maka Dirwas berkata: “Ya AmirulMu’minin! Berikanlah sejumlah uang ini

kembali kepada orang-orang Baduiku, karena aku tak mau jikap pemberian yang

telah diperintahkan Amirul Mu’minin tadi tidak dapat memenuhi hajat mereka.”

Hisyam bertanya:

“Mengapa kamu tidak menyebutkan hajat pribadimu?” Jawabnya: “Aku tidak punya

hajat selain hajat semua kaum Muslimin.” Perhatikan rasa percaya anak muda ini

pada dirinya dan keberaniannya dalam kebenaran.

PENUTUP

Firman Allah Ta’ala:

” Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu

….(Surah Al Mu’min: 60)

” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah)

bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia

memohon kepada-Ku…..” (Surah Al-Baqarah : 186).

Diriwayatkan dari An Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi bersabda:

“Do’a adalah ibadah”

Doa mempunyai peranan yang penting sekali dalam pendidikan anak, bahkan dalam seluruh

urusan kehidupan, dan hanya Allah’Azza wa Jalla yang memberikan taufik dan

hidayah.Seorang muslim mungkin telah berusaha maksimal dalam upaya mendidik anaknya

agar menjadi orang shaleh tetapi tidak berhasil. Sebaliknya, ada anak yang menjadi orang

shaleh sekalipun terdidik di tengah lingkungan yang menyimpang dan jelek; bahkan

mungkin dibesarkan tanpa mendapat perhatian pendidikan dari kedua orangtua jadi,

petunjuk itu semata-mata dari Allah. Dialah yang berfirman:

” Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi,

tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya…”( Al-Qashash : 56).

Maka kita semua tidak boleh melupakan aspek ini dan wajib memohon dan berdo’a kepada

Allah semoga berkenan menjadikan kita dan anak keturunan kita orang-orang yang shaleh,

hanya Dialah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Harap Cantumkan Dicopy dari :

Website Yayasan Al-Sofwa

Jl. Raya Lenteng Agung Barat, No.35 Jagakarsa, Jakarta – Selatan (12610)

Telpon: (021)-788363-27 , Fax:(021)-788363-26

http://www.alsofwah.or.id ; E-mail: info@alsofwah.or.id

Dilarang Keras Memperbanyak Buku ini untuk diperjual

belikan !!!

Mei 27, 2010 at 2:40 am Tinggalkan komentar

CERMATI DAN JAUHKAN ANAK DARI STRES

Cermati dan Jauhkan Anak Dari Stress

BEBAN BERLEBIH: Tuntutan orangtua untuk selalu jadi nomor satu di kelas bisa membuat anak merasa tertekan.

JAKARTA – Sebagai orang tua, pernahkan memperhatikan buah hati terlihat gelisah, tidak punya nafsu makan atau kurang konsentrasi? Kondisi itu terjadi karena anak mengalami stres. Stres tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak pun sangat mungkin terkena stress atau tekanan mental lain

Pencetus stres pada anak bisa jadi ada pada orang tua. Orang tua sering kali tidak mengerti akan keinginan buah hatinya. Hal itu lah yang kerap membuat anak-anak menjadi stres karena si bocah merasakan ada singgungan dengan orang tua. Tentunya kondisi ini bisa berbahaya bagi pertumbuhan mereka.

Reaksi seseorang terhadap stres berbeda-beda. Namun ada beberapa yang bisa diamati, seperti yang telah diungkapkan di atas. Tapi orang tua juga harus lebih cermat ketika anak menjadi cengeng dan mudah marah. Bahkan, bayi yang mengalami stres dapat meninggal dunia.

Pengamat anak Seto Mulyadi mengatakan anak lebih rentan mengalami stres dibandingkan orang dewasa. ”Justru anak-anak lebih rentan terhadap stres karena mereka masih belum bisa menangani perasaan tertekan. Tidak seperti orang dewasa,” ucap lelaki yang akrab disapa Kak Seto saat menghadiri diskusi kesehatan di Jakarta, pekan lalu.

Anak-anak, menurut dia, bisa mengalami stres dari kegiatan sehari-harinya. Banyaknya tugas yang harus dikerjakan setelah pulang sekolah, atau beratnya beban yang diberikan pihak sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar anak bisa jadi salah satu faktor pencetus stres pada anak. Selain itu tuntutan orangtua untuk selalu jadi nomor satu di kelas juga bisa membuat anak merasa tertekan.

”Zaman sekarang, anak sekolah tidak lagi membawa tas, tetapi membawa ’koper’. Pulang banyak PR (pekerjaan rumah),akhirnya anak teler,” ujar pria kelahiran 28 Agustus 1951 ini.

Kak Seto menyebutkan, pihak sekolah boleh saja memberikan tugas, tapi tidak dalam porsi berlebihan. Sarannya untuk para guru yang ingin menjadikan anak muridnya berprestasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi anak. Jangan dipaksakan, tegas Kak Seto.

”Mungkin saja prestasi mereka bagus, tetapi belum tentu dengan moralnya,” imbuhnya.

Itu belum termasuk kondisi lingkungan sekolah. Kak Seto memaparkan hasil penelitian di Indonesia yang menunjukan di lingkungan sekolah sekitar 60% anak murid pernah dibentak tenaga pengajarnya. Padahal, lanjut dia, proses pembelajaran yang efektif adalah belajar dengan cara menyenangkan. Tidak dengan cara membentak yang justru bisa membuat anak makin tertekan.

“Yang perlu diimbau di sini ialah para tenaga pengajar. Guru diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan kurikulum yang dibuat Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tanpa membebani anak didik.Tentunya dengan ide yang kreatif dan menyenangkan,” bebernya.

Intinya, ditegaskan Kak Seto, adalah kurikulum harus menyesuaikan kondisi anak atau kurikulum untuk anak, bukan anak untuk kurikulum. Banyak paradigma keliru beredar di masyarakat tentang bagaimana mendidik anak.

Begitu juga tentang disiplin, ketika orang tua mendidik anak dengan disiplin tinggi masih saja banyak yang keliru. Banyak disiplin berada ‘di ujung rotan’. Padahal, mendidik anak tidak dengan mulut dan tangan, tapi dengan hati.

”Stres juga sangat mungkin ditimbulkan dari keluarga yang tidak harmonis. Kondisi tak harmonis ini bisa diakibatkan dari adanya komunikasi yang sangat tidak baik di dalamnya,” kata Kak Seto. Anak memikirkan bagaimana keadaan keluarganya atau bisa saja diledek teman sepermainnya. Rasa tertekan jelas menimbulkan dampak negatif pada anak, baik secara fisik maupun psikis.

Kak Seto meminta para orangtua supaya segera mengubah pola asuhnya apabila anak sudah terlihat stres dalam menjalani rutinitas kesehariannya. Atau bisa juga dengan mengubah suasana lingkungan anak.

”Segera ubah keadaan. Contohnya, jika keadaan rumah sedang dalam kondisi kurang kondusif dan membuat anak makin pusing berada di rumah, karena ribut misalnya, yang sebaiknya dilakukan adalah coba ajak anak pindah ke tempat lain untuk sementara waktu. Di rumah neneknya mungkin,”saran Kak Seto.

Dengan kata lain, ciptakan suasana yang mendukung dan menyenangkan untuk menghindari stres. Jika anak terlihat senang dengan kegiatan mereka, maka orangtua berkewajiban mengembangkannya. Bisa jadi hal tersebut menjadi alternatif mereka untuk menghilangkan stres.

Stres yang dikelola dengan baik akan membuat anak terpacu atau tertantang untuk menghadapinya. Kak Seto mencontohkan saat menghadapi ujian. Jika orangtua dan orang sekelilingnya membantu dan menjelaskan kepada anak bahwa kegiatan belajar mampu mendongkrak prestasi, mereka aka berusaha mencapai hasil lebih baik lagi.

”Stres yang baik adalah stres yang ’sehat’,dan itu bisa dilakukan anak apabila kita mengajarkan mereka bagaimana cara mengelola stres yang baik,” pungkas Kak Seto./cr2/itz

Mei 26, 2010 at 3:07 am Tinggalkan komentar

PENDIDIKAN

PENDIDIKAN

Apa itu Pendidikan ?

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.

Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.

Penjelasan Definisi (Belajar)

Perubahan akibat belajar dapat terjadi dalam berbagai bentuk perilaku, dari ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotor. Tidak terbatas hanya penambahan pengetahuan saja.

Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.

Perubahannya tidak harus langsung mengikuti pengalaman belajar. Perubahan yang segera terjadi umumnya tidak dalam bentuk perilaku, tapi terutama hanya dalam potensi seseorang untuk berperilaku.

Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.

Perubahan akan lebih mudah terjadi bila disertai adanya penguat, berupa ganjaran yang diterima – hadiah atau hukuman – sebagai konsekuensi adanya perubahan perilaku tersebut.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.

Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.

Definisi Kecerdasan

Terdapat beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan[1]. Stenberg& Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan dan adaptif[2].

Struktur kecerdasan

Kecerdasan dapat dibagi dua yaitu kecerdasan umum biasa disebut sebagai faktor-g maupun kecerdasan spesifik. Akan tetapi pada dasarnya kecerdasan dapat dipilah-pilah. Berikut ini pembagian spesifikasi kecerdasan menurut L.L. Thurstone:

Pemahaman dan kemampuan verbal

Angka dan hitungan

Kemampuan visual

Daya ingat

Penalaran

Kecepatan perseptual

Skala Wechsler yang umum dipergunakan untuk mendapatkan taraf kecerdasan membagi kecerdasan menjadi dua kelompok besar yaitu kemampuan kecerdasan verbal (VIQ) dan kemampuan kecerdasan tampilan (PIQ)

Faktor yang mempengaruhi kecerdasan

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan, yaitu:

Biologis

Lingkungan

Budaya

Bahasa

Masalah etika

Pengukuran taraf kecerdasan

Salah satu uji kecerdasan yang diterima luas ialah berdasarkan pada uji psikometri atau IQ. Pengukuran kecerdasan dilakukan dengan menggunakan tes tertulis atau tes tampilan (performance test) atau saat ini berkembang pengukuran dengan alat bantu komputer. Alat uji kecerdasan yang biasa di pergunakan adalah :

Stanford-Binnet intelligence scale

Wechsler scales yang terbagi menjadi beberapa turunan alat uji seperti :

WB (untuk dewasa)

WAIS (untuk dewasa versi lebih baru)

WISC (untuk anak usia sekolah)

WPPSI (untuk anak pra sekolah)

IST

TIKI (alat uji kecerdasan Khas Indonesia)

FRT

PM-60, PM Advance

Kritik terhadap tes IQ

Kelemahan dari alat uji kecerdasan ini adalah terdapat bias budaya, bahasa dan lingkungan yang mempengaruhinya. Kekecewaan terhadap tes IQ konvensional menimbulkan pengembangan sejumlah teori alternatif, yang semuanya menegaskan bahwa kecerdasan adalah hasil dari sejumlah kemampuan independen yang berkonstribusi secara unik terhadap tampilan manusia.

Stephen Jay Gould adalah salah satu tokoh yang mengkritik teori kecerdasan. Dalam bukunya The Mismeasure of Man (Kesalahan Ukur Manusia), ia mengemukakan bahwa kecerdasan sebenarnya tak bisa diukur, dan juga mempertanyakan sudut pandang hereditarian atas kecerdasan.

Catatan kaki

  1. ^ Encarta Reference Librari premium (2005)Redmond, WA:Microsoft Encarta
  2. ^ Bjorklund, D. F.(2000) Children’s Thinking : Developmental function and Individual differences. 3rd ed. Belmont, Ca : Wadsworth

Kegiatan Belajar
Terhadap Prestasi Yang Dicapai

A. Pengertian Belajar
Sebelum membicarakan pengertian prestasi belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan apa yang dimaksud dengan belajar. Para pakar pendidikan mengemukakan pengertian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, namun demikian selaku mengacu pada prinsip yang sama yaitu setiap orang yang melakukan proses belajar akan mengalami suatu perubahan dalam dirinya.
Menurut Slameto (1995:2) belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” Selanjutnya Winkel (1996:53) belajar adalah “suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstant.” Kemudian Hamalik (1983:28) mendefinisikan belajar adalah “suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.”

B. Pengertian Prestasi Belajar
Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung.
Adapaun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu.
Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah menyerap oengetahuan. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan. Sehubungan dengan prestasi belajar, Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.”
Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.” Sedangkan menurut S. Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.”
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar.
Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya.

1. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi.

Kecerdasan/intelegensi
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalany perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar.
Menurut Kartono (1995:1) kecerdasan merupakan “salah satu aspek yang penting, dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan normal atau di atas normal maka secara potensi ia dapat mencapai prestasi yang tinggi.”
Slameto (1995:56) mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.”
Muhibbin (1999:135) berpendapat bahwa intelegensi adalah “semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.”
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan yang tinggi merupakan faktor yang sangat penting bagi seorang anak dalam usaha belajar.

Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1986:28) bahwa “bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu.”
Kartono (1995:2) menyatakan bahwa “bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.” Menurut Syah Muhibbin (1999:136) mengatakan “bakat diartikan sebagai kemampuan indivedu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.”
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. Apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut.

Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel (1996:24) minat adalah “kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.” Selanjutnya Slameto (1995:57) mengemukakan bahwa minat adalah “kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang.”
Kemudian Sardiman (1992:76) mengemukakan minat adalah “suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atai arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.”
Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minat belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.

Motivasi
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar.
Nasution (1995:73) mengatakan motivasi adalah “segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.” Sedangkan Sardiman (1992:77) mengatakan bahwa “motivasi adalah menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu.”
Dalam perkembangannya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu (a) motivasi instrinsik dan (b) motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang yang atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya dari luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan kegiatan belajar.
Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk mengarahkan perhatian siswa kepada sasaran tertentu. Dengan adanya dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan motivasi kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan kehendak sendiri dan belajar secara aktif.

2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya.
Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu. Menurut Slameto (1995:60) faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah “keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.”

a. Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa: “Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yanng sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.”
Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar.
Dalam hal ini Hasbullah (1994:46) mengatakan: “Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.”
Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.

b. Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya.
Menurut Kartono (1995:6) mengemukakan “guru dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam mengajar.” Oleh sebab itu, guru harus dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan, dan memiliki metode yang tepat dalam mengajar.

c. Lingkungan Masyarakat
di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada.
Dalam hal ini Kartono (1995:5) berpendapat:
Lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak yang sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebaliknya bila anak-anak di sekitarnya merupakan kumpulan anak-anak nakal yang berkeliaran tiada menentukan anakpun dapat terpengaruh pula.

Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya.

D. Fase dan Teknik yang Efektif dalam Belajar
The Liang Gie (1983:12) membagi fase belajar ke dalam dua fase yaitu fase persiapan belajar dan fase proses belajar. Dalam tiap-tiap fase tersebut cara atau teknik belajar tersendiri.

Fase Persiapan Belajar
Fase ini merupakan fase sebelum belajar, landasar utama bagi pembentukan cara belajar yang baik adalah sikap mental yang baik, yaitu sikap mental yang ditumbuhkan dan dipelihara dengan sebaik-baiknya agar siswa mempunyai kesadaran berupa kesediaan mental. Tanpa kesediaan mental siswa dalam belajar tidak akan bertahan menghadapi berbagai macam kesukaran, terutama pada saat siswa dihadapi paa berbagai masalah yang harus dipecahkan.
Sikap mental yang perlu diusahakan oleh setiap siswa dalam rangka persiapan belajar sekurang-kurangnya mencakup empat segi, yaitu: Tujuan belajar, minat terhadap pelajaran, kepercayaan paa diri sendiri dan keuletan.

Tujuan Belajar
Belajar di sekolah perlu diarahkan pada suatu cita-cita tertentu, cita-cita yang diperjuangkan dengan berbagai macam kegiatan belajar. Tujuan belajar perlu diketahui oleh siswa, agar siswa siap menerima materi pelajaran, seperti apa yang dijelaskan Winarno Surachman (1994:99) bahwa: “Tujuan itu penting anda ketahui terlebih dahulu, sebab jika anda sudah mengetahui tujuan itu maka mental anda pun akan siap menerima, mengolah dan mengatur semua mata pelajaran sesuai dengan tujuan itu.”

Minat terhadap mata pelajaran
Setiap siswa seharusnya menaruh minat yang besar terhadap mata pelajaranyang mereka ikuti, karena minat selain memusatkan pikiran juga akan menimbulkan kegembiraan dalam usaha belajar, seperti yang kemukakan oleh The Liang Gie (1983:12) adalah “keriangan hati akan memperbesar kemampuan belajar seseorang dan juga membentunya tidak melupakan apa yang dipelajarinya itu.”
Materi pelajaran dapat dipelajari dengan baik bila siswa dapat memusatkan pikirannya dan menyenangi materi pelajaran tersebut. Siswa kurang berhasil dalam menerima materi pelajaran itu disebabkan siswa itu tidak tertarik dengan materi pelajaran yang disampaikan.

Kepercayaan kepada diri sendiri
Setiap siswa perlu yakin mereka mempunyai kemampuan kepercayaan kepada diri sendiri perlu dipupuk sebagai salah satu kesiapan sepenuhnya bahwa tidak ada mata pelajaran yang tidak dapat dipahami bila ia mau belajar dengan giat setiap hari.

Keuletan
Hidup seorang siswa selama belajar di sekolah penuh kesukaran-kesukaran, oleh karena itu setiap siswa perlu memiliki keuletan baik jasmani maupun rohani. Untuk memupuk keuletan tersebut hendaknya siswa selalu menganggap setiap persoalan muncul sebagai tantangan yang harus diatasi.
Materi pelajaran yang diberikan guru di sekolah masih mengharuskan siswa melaksanakan aktifitas mental, untuk menanamkan konsep pelajaran yang lebih baik. Untuk itu Herman Hudoyo (1989:15) menyarankan bahwa: “Belajar haruslah aktif, tidak sekedar pasif saja menerima apa yang diberikan. Dapat mengharapkan jika siswa aktif melibatkan diri dalam menemukan suatu prinsip dasar, anak itu akan mengerti konsep yang lebih baik, ingatannya lebih lama dan akan mampu menggunakan konsep tersebut dikonteks yang lain.”

Fase Proses Belajar
Fase ini sangat menentukan seorang siswa berhsail tidaknya di sekolah, pada fase proses belajar ini dituntut kepada siswa untuk menerapkan cara-cara belajar yang sebaik mungkin. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam fase ini antara lain:

a. Pedoman dalam belajar
Pedoman dalam belajar perlu dibuat untuk menjadi petunjuk dalam melakukan kegiatan belajar. Karena setiap usaha apapun tentu ada azas-azas yang dijadikan sebagai pedoman demi suksesnya usaha tersebut. Demikian pula dalam belajar, The Liang Gie (1983:13) mengemukakan bahwa: “Prinsip-prinsip belajar itu sekurang-kurangnya menyangkut tiga hal, yaitu keteraturan, disiplin dan konsentrasi.”
Keteraturan dalam belajar sangat penting artinya, bila siswa ingin belajar dengan baik, maka hendaknya siswa dapat menjadikan keteraturan di dalam belajar itu sebagai hal pokok sesuai dengan saran Al-Falasany (1992:15) bahwa: “Keteraturan belajar adalah pangkal utama dari cara belajar yang baik.”
Di dalam belajar siswa akan berhadapan dengan bermacam-macam rintangan yang dapat menangguhkan usaha belajarnya, tetapi dengan mendisiplinkan dirinya sendiri ia akan dapat mengatasi semua hal itu, Al-Falasany (1992:15) mengemukakan bahwa dengan kemauan yang keras dan dengan disiplin ia akan dapat menjauhi godaan dan gangguan yang mendorongnya malas belajar, ogah-ogahan dan menunda-nunda studi.
Setelah faktor keteraturan dan displin di dalam belajar, maka konsentrasi juga sangat diperlukan pada saat berada dalam proses belajar perlu konsentrasi, tanpa konsentrasi ia tidak mungkin dapat menguasai materi pelajaran.

b. Cara mengikuti pelajaran
Untuk dapat mengikuti pelajaran dengan baik di sekolah, maka diharapkan kepada siswa agar dapat memusatkan pikiran dan perhatiannya pada materi pelajaran yangs edang disajikan oleh guru. Karena seperti ET Ruseffendi (1982:18) mengemukakan bahwa: “Anak-anak harus belajar berbuat sendiri dan merasakan sendiri. Makin banyak indera yang dipakai makin efedien anak belajar.”
Siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih banyak bila ia dapat mengikuti pelajaran dengan tertib, penuh perhatian, mencatat dengan baik, serta mau bertanya jika ada penjelasan yang kurang dimengerti. Dengan demikian dapat diharapkan, jika siswa aktif melibatkan diri dalam menemukan prinsip-prinsip dasar siswa itu akan mengerti konsep yang lebih baik.
Namun untuk mempermudah siswa memahami konsep-konsep yang diajarkan di sekolah, sebaiknya siswa sudah mempersiapkan dirinya dengan pengetahuan tentang materi-materi sebelumnya, karena Herman Hudoyo (1989:18) menekankan bahwa: “Pada waktu siswa mempelajari sesuatu konsep yang benar-benar baru, untuk mudah memahami konsep-konsep tersebut, siswa perlu berorientasi dengan pengalaman yang lampau.”

c. Cara mengulangi materi pelajaran/membaca buku
Setelah di sekolah siswa mengikuti pelajaran dengan baik, tentu usaha siswa untuk mendapat pengertian tentang konsep materi pelajaran dengan baik tidak cukup sampai di sini, tetapi siswa perlu lagi mengkaji, mengulangi dan membaca kembali materi tersebut.
Belajar memang tidak lepas dari membaca dan ternyata membaca sebenarnya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Membaca mempunyai teknik-teknik tersendiri, sebagaimana juga menulis. Dengan mengikuti teknik membaca sistimatis dan cepat, kita dapat menghemat waktu dan belajar lebih banyak.
Banyak siswa sekolah menengah maupun mahasiswa masih mempunyai kebiasaan yang jelek. Mereka membaca sangat lamban, kurang memahami makna kata dan ungkapan-ungkapan tertentu lebih-lebih dengn bacaan yang berat. Di samping itu tidak dapat merefleksikan apa yang telah dibaca.
Kesukaran belajar banyak ditentukan oleh keterampilan membaca. Memang banyak faktor yang menentukannya. Hal pertama kali yang harus diperhatikan adalah jarak mata dengan buku atau tulisan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sudarmanto (1993:35) yaitu: “Jarak membaca yang baik adalah 16 inci (+ 30 cm). Bila dalam membaca jarak itu tidak dapat dijangkau maka ada ketidak-beresan dengan mata.”
Adapun tujuan yang dihadapkan dalam usaha mengulangi kembali pelajaran di rumah itu adalah untuk memperkuat ingatan siswa terhadap materi pelajaran yang akan digunakan untuk memecahkan masalah atau soal-soal. Dalam hal ini Herman Hudoyo (1989:27) menegaskan bahwa: “Ingatan memegang peranan penting di dalam belajar jika siswa harus mencari jalan untuk menyelesaikan suatu masalah.”

E. Prinsip-prinsip Belajar
Dalam mengerjakan sesuatu seseorang harus mempunyai prinsip-prinsip tertentu, begitu juga halnya dengan belajar. Untuk menertibkan diri dalam belajar harus mempunyai prinsip sebagaimana yang diketahui prinsip belajar memang kompleks tetapi dapat juga dianalisis dan diperinci dalam bentuk-bentuk prinsip atau azas belajar sebagaimana yang dinyatakan oleh Oemar Hamalik (9183:23) meliputi:
Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi huungan mempengaruhi secara dinamis antara siswa dan lingkungan.
Belajar harus senantiasa bertujuan, searah dan jelas bagi siswa.
Belajar yang paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri.
Senantiasa ada hambatan dan rintangan dalam belajar, karena itu siswa harus sanggup menghadapi atau mengatasi secara tepat.
Belajar memerlukan gimgingan baik itu dari guru atau tuntutan dari buku pelajaran itu sendiri.
Jenis belajar yang paling utama ialah belajar yang berpikiran kritis, lebih baik daripada pembentukan kebiasaan-kebiasaan mekanis.
Cara belajar yang paling efektif adalah dalam pembentukan pemecahan masalah melalui kerja kelompok asalkan masalah tersebut disadari bersama.
Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari, sehingga diperoleh pengertian-pengertian.
Belajar memerlukan latihan dan ulangan, agar apa-apa yang dipelajari dapat dikuasai.
Belajar harus disertai dengan keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan.
Belajar dianggap berhasil apabila si pelajar telah sanggup menerapkan dalam prakteknya.

Banyak siswa yang telah belajar dengan giat tetapi usahanya itu tidak memberikan hasil yang diharapkan, dan sering kali mengalami kegagalan, bekerja keras belum tentu menjamin seseorang dapat belajar dengan berhasil. Di samping itu seorang siswa perlu memperhatikan syarat-syarat dapat belajar secara efesien atau belajar dengan baik. Di antara syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
Kesehatan jasmani, badan yang sehat berarti tidak mengalami gangguan penyakit tertentu cukup dengan vitamin dan seluruh fungsi badan berjalan dengan baik.
Rohani yang sehat, tidak berpenyakit syaraf, tidak mengalami gangguan emosional, senang dan stabil
Lingkungan yang tenang, tidak ribut, serasi bila mungkin jauh dari keramaian dan gangguan lalu lintas dan tidak ada gangguan yang lainnya.
Tempat belajar menyenangkan, cukup udara, cukup matahari, penerangan yang memadai.
Tersedia cukkup bahan dan alat-alat yang diperlukan, bahan-bahan dan alat-alat itu menjadi sumber belajar dan alat sebagai pembantu belajar.

Jenjang pendidikan

Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

Pendidikan anak usia dini

Mengacu Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 Butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Pendidikan dasar

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Pendidikan menengah

Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar. yang harus dilaksanakan minimal 9 tahun

Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.Mata pelajaran pada perguruan tinggi merupakan penjurusan dari SMA, akan tetapi semestinya tidak boleh terlepas dari pelajaran SMA

Materi pendidikan

Materi Pendidikan harus disajikan memenuhi nilai-nilai hidup. nilai hidup meliputi nilai hidup baik dan nilai hidup jahat. penyajiannya tidak boleh pendidikan sifatnya memaksa terhadap anak didik, tetapi berikan kedua nilai hidup ini secara objektif ilmiah. dalam pendidikan yang ada di Indonesia tidak disajikan nilai hidup, sehingga bangsa Indonesia menjadi kacau balau seperti sekarang ini.

Jalur pendidikan

Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Pendidikan formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

Pendidikan nonformal

Pendidikan nonformal meliputi pendidikan dasar, dan pendidikan lanjutan.

Pendidikan dasar mencakup pendidikan keaksaraan dasar, keaksaraan fungsional, dan keaksaraan lanjutan paling banyak ditemukan dalam pendidikan usia dini (PAUD), Taman Pendidikan Al Quran (TPA), maupun Pendidikan Lanjut Usia. Pemberantasan Buta Aksara (PBA) serta program paket A (setara SD), paket B (setara B) adalah merupakan pendidikan dasar.

Pendidikan lanjutan meliputi program paket C(setara SLA), kursus, pendidikan vokasi, latihan keterampilan lain baik dilaksanakan secara terogranisasi maupun tidak terorganisasi.

Pendidikan Non Formal mengenal pula Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai pangkalan program yang dapat berada di dalam satu kawasan setingkat atau lebih kecil dari kelurahan/desa. PKBM dalam istilah yang berlaku umum merupakan padanan dari Community Learning Center (CLC)yang menjadi bagian komponen dari Community Center.

Pendidikan informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Jenis pendidikan

Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

Pendidikan umum

Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pendidikan kejuruan

Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).jenis ini termasuk ke dalam pendidikan formal.

Pendidikan akademik

Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.

Pendidikan profesi

Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional. Salah satu yang dikembangkan dalam pendidikan tinggi dalam keprofesian adalah yang disebut program diploma, mulai dari D1 sampai dengan D4 dengan berbagai konsentrasi bidang ilmu keahlian. Konsentrasi pendidikan profesi dimana para mahasiswa lebih diarahkan kepada minat menguasai keahlian tertentu. Dalam bidang keahlian dan keprofesian khususnya Desain Komunikasi Visual terdapat jurusan seperti Desain Grafis untuk D4 dan Desain Multimedia untuk D3 dan Desain Periklanan (D3). Dalam proses belajar mengajar dalam pendidikan keprofesian akan berbeda dengan jalur ke-sarjanaan (S1) pada setiap bidang studi tersebut.

Pendidikan vokasi

Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

Pendidikan keagamaan

Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

Pendidikan khusus

Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).

Filosofi pendidikan

Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup.

Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.

Banyak orang yang lain, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, “Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.”

Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam — sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka — walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Kualitas pendidikan

Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan — khususnya di Indonesia — yaitu:

Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan.Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.

Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya.Dimana,masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR ANAK.

Selasa, 22 Jun 2004 00:00

Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat

Dalam rangka Seminar Sehari tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar Anak dan Kurikulum Berbasis Komputensi di Sekolah Dasar

1. Pengaruh Pendidikan dan Pembelajaran Unggul

Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya (Semiawan, C, 1997).Pada kala bayi lahir ia telah dimodali 100 – 200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron otak berfungsi penuh (Clark, 1986).

Lingkungan pendidikan dan berbagai pusat pelatihan serta tempat kerja kita kini juga dipengaruhi oleh lingkungan global yang merupakan berbagai pengaruh eksternal dalam dinamika berbagai aspek kehidupan di dunia, Lingkungan global yang mengadung pengertian tereksposnya kita oleh kehidupan komunitas global menuntut adaptasi masyarakat kita pada kondisi global dan pada gilirannya menuntut adaptasi individu untuk bisa bertahan di masyarakat di mana ia hidup.

Interface antar berbagai stimulus lingkungan melalui interaksi untuk mewujudkan aktualitasasi diri individu secara optimal dalam masyarakat di mana ia hidup dan juga aktualisasi daerah pada masyarakat yang lebih luas, nasional maupun global, inilah yang harus menjadi perhatian pengelola ataupun atasan atas perlakuan subjek SDM, dalam hal kita, para guru dalam perlakuannya terhadap peserta didik. Interaksi yang terjadi dalam prilaku anak-anak kita. Namun secara reciprocal (timbal balik) perlakuan yang diterjadikan adalah cermin kehidupan masyarakat di mana ia hidup.

Menghadapi era global di masa yang akan datang, diharapkan kesadaran tentang reformasi pendidikan memenuhi kondisi masa depan yang dipersyaratkan (necessary condition to be fullfield). Kurun waktu milenium ke 3 dari proses kehidupan manusia sudah berjalan, dan abad ke-21 serta abad ke-22 ini bukan saja merupakan abad-abad baru, melainkan juga peradaban baru. Hal ini dikarenakan betapapun mengalami krisis moneter, Indonesia akan terkena juga oleh restrukturisasi global dunia yang sedang berlangsung. Restrukturisasi dunia, yang terutama ditandai oleh berbagai perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan aspek kehidupan lain, mempengaruhi setiap insan manusia, laki, perempuan, anak di negara berkembang maupun di negara maju, tidak terkecuali negara Indonesia, dan terutama berdampak terhadap orientasi pendidikan.

2. Perkembangan dan Pengukuran Otak

Sebagaimana tadi dikatakan, maka cara penggunaan sistem kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan inteligensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan yang dialami seorang manusia, serta kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan memungkinkan akselerasi proses berfikir(Thompsn, Berger, dan Berry, 1980 dalam Clark, 1986). Dengan demikian inteligensi manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam batas-batas tipe inteligensinya.

Secara biokimia neuron-neuron tersebut menjadi lebih kaya dengan memungkinkan berkembangnya pola pikir kompleks. Juga banyak digunakan berkembangnya aktivitas “Prefrontal cortex” otak, sehingga terjadi perencanaan masa depan, berfikir berdasarkan pemahaman dan pengalaman intuitif, Prefrontal cortex yang terutama tumbuh pada ketika anak berumur duabelas sampai enambelas tahun mencakup juga kemampuan melihat perubahan pola ekstrapolasi kecendrungan hari ini ke masa depan; regulasi diri serta strategi “biofeedback” dan meditasi; berfikir sistem analisis;yang merupakan aspek-aspek bentuk tertinggi kreativitas serta memiliki kepekaan sosial, emosional maupun rasional (Goodman, 1978, dalam Clark, 1986). Sifat-sifat manusia ini banyak terkait dengan sifat-sifat inisiatif dan dorongan mencapai kemandirian dan keunggulan.

Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berfikir, perilaku serta emosi manusia mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan ingatannya. Descartes pusat kesadaran orang, ibarat saisnya, sedangkan badan manusia adalah kudanya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perilaku manusia juga dipengaruhi oleh ketidaksadarannya (freud dalam Zohar, 2000:39), kesadaran manusia yang oleh Freud disebut rasionya merupakan kemampuan umum yang mengontrol seluruh perilaku manusia. Berbagai penelitian kemudian membuktikan bahwa kemampuan rasional tersebut biasa diukur dengan IQ (Intelligence Quetient). Meskipun kini terbukti bahwa orang memiliki lebih dari satu inteligensi menurut teori Gardner ada 8 (teori Multiple Intelligence), ukuran yang disebut IQ mengukur kemampuan umum yang bersifat tunggal masih sering dipakai untuk menandai kemampuan intelektual dan prestasi belajar. Ternyata bahwa otak tersebut masih menyimpan berbagai kemungkinan lain.

“Celebral Cortex” otak dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut “corpus callosum”. Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respons, tugas dan fungsi belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespons terhadap hal yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik dan mengembangkan imaginasinya. Dengan demikian ada dua kemungkinan cara berfikir, yaitu cara berfikir logis, linier yang menuntut satu jawaban yang benar dan berfikir imaginatif multidimensional yang memungkinkan lebih dari satu jawaban.

3. Kecerdasan (Inteligensi) Emosional
* Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan suskse terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat (Segal, 1997:14). Pada permulaan tahun sembilan puluhan berbagai penelitian menunjukkan (Segal, 1997:5) bahwa diinspirasi oleh berbagai psikolog humanis seperti Maslow, Rollo May, Carl Rogers yang sangat memperhatikan segi-segi subyektif (perasaan) dalam perkembangan psikolog, eksplorasi tentang emosi telah menunjuk pada sumber-sumber emosi (Segal, 1997, Goleman, 1995).

Ternyata bahwa emosi selain mengandung persaan yang dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui (Menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya emosi itu adalah impuls untuk bertindak.

Goleman menyatakan bahwa selain rational mind, seorang memiliki an emotional main yang masing-masing diukur oleh IQ dan EQ dan bersumber masing-masing dari head dan heart. kedua kehidupan mental tersebut, meskipun berfungsi dengan cara-caranya sendiri, bekerjasama secara sinergis dan harmonis.

* Homo sapiens yang memiliki neocortex(otak depan) yang merupakan sumber rasio, yaitu otak depan, terdiri dari pusat-pusat yang memahami dan mendudukan apa yang diamati oleh alat dria kita. Dalam evolusi tentang pengtahuan kemampuan organisma, ternyata bahwa penanjakan kehidupan manusia dalam peradaban dan kebudayaan adalah kerja neocortex yang ternyata juga menjadi sumber kemampuan seseorang untuk perencanaan dan strategi jangka panjang dalam mempertahankan hidup (Goleman, 1995:11).

Perkembangan ini menjadi otak memiliki nuansa terhadap kehidupan emosional seseorang. Struktur lymbic (sumsum tulang belakang) menghidupkan perasaan tentang kesenangan dan keinginan seksual, yaitu emosi yang mewujudkan sexual passion. Namun keterkaitan sistem lymbic tersebut dengan neocortex menumbuhkan hubungan dasar ibu-anak, yang menjadi landasan untuk unit keluarga dan commitment jangka panjang untuk membesarkan anak (spesi yang tidak dimiliki organisma ini seperti binatang melata, tidak memiliki kasih sayang) dan sering membunuh dan /atau menghancurkan anaknya sendiri. Masa anak dan masa belajar panjang (long childhood) bersumber dari saling keterhubungan neuron-neuron dalam ‘pabrik’ otak ini.

* Amygdala adalah neuron yang mewujudkan struktur keterhubungan di atas brainstem dekat dasar dari limbic ring(cincin sumsum tulang belakang antara emosi dan rasio). Amygdala adalah tempat penyimpanan memori emosi.

Joseph Le Doux, neoroscientist dari Center for Neural Scince New York University menemukan peran penting amygdala dalam otak emosional. Amygdala menerima input langsung melalui alat dria dan memberikan signal kepada neocortex, namun juga dapat memberikan respons sebelum tercatat di neocortex. Jadi ada kemungkinan respons manusia sebelum ia berfikir.

AKTIVITAS dan PRESTASI BELAJAR

•1.      Prestasi Belajar

Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh individu setelah mengalami suatu proses belajar dalam jangka waktu tertentu. Prestasi belajar juga diartikan sebagai kemampuan maksimal yang dicapai seseorang dalam suatu  usaha yang menghasilkan pengetahuan atau nilai – nilai kecakapan. Lebih lanjut Nurkancana dan Sunartana (1992) mengatakan :

Prestasi belajar bisa juga disebut kecakapan aktual (actual ability) yang diperoleh seseorang setelah belajar, suatu kecakapan potensial (potensial ability) yaitu kemampuan dasar yang berupa disposisi yang dimiliki oleh individu untuk memcapai prestasi. Kecakapan aktual dan kecakapan potensial ini dapat dimasukkan kedalam suatu istilah yang lebih umum yaitu kemampuan (ability).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh siswa setelah siswa yang bersangkutan dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kecakapan nyata (actual) bukan kecakapan potensial. Menurut Nila Parta prestasi siswa pada mata pelajaran matematika dipengaruhi oleh faktor dalam diri siswa yang belajar yang meliputi IQ, motivasi, minat, bakat, kesehatan dan faktor luar siswa yang belajar yang meliputi guru pengajar, materi ajar, latihan, sarana kelengkapan belajar siswa, tempat di sekolah atau di rumah serta di lingkungan sosial siswa.

Prestasi belajar ini dapat dilihat secara nyata berupa skor atau nilai setelah mengerjakan suatu tes. Tes yang digunakan untuk menentukan prestasi belajar merupakan suatu alat untuk mengukur aspek – aspek tertentu dari siswa misalnya pengetahuan, pemahaman atau aplikasi suatu konsep.

•2.      Aktivitas Siswa

Menurut Sriyono aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan – kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas – tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Mengerjakan matematika mengandung makna aktivitas guru mengatur kelas sebaik – baiknya dan menciptakan kondisi yang kondusif sehingga murid dapat belajar metematika. Aktifnya siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan cirri – ciri perilaku seperti : sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. Semua ciri perilaku tersebut pada dasarnya dapat ditinjau dari dua segi yaitu segi proses dan dari segi hasil.

Trinandita (1984) menyatakan bahwa ” hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa”. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing – masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

SEKOLAH DASAR

Sekolah Dasar (disingkat SD) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah Dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari Kelas 1 sampai Kelas 6. Saat ini murid Kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Lulusan Sekolah Dasar dapat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat).

Pelajar Sekolah Dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni Sekolah Dasar (atau sederajat) 6 tahun dan Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat) 3 tahun.

Sekolah Dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab kabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, Sekolah Dasar Negeri berada di bawah Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan di kecamatan

Bahasa Arab

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Bahasa Arab (عربية `Arabiyyah)

Dituturkan di:

Arab Saudi, Mesir dan banyak negara lainnya.

Daerah:

Timur Tengah dan Afrika Utara

Jumlah total:

225 juta jiwa

Urutan di dunia:

2 sampai 6

Rumpun bahasa
Klasifikasi:

Bahasa Afro-Asia

Bahasa Semitik
Bahasa Semitik Selatan
Bahasa Arab

Status resmi

Bahasa resmi:

PBB, Liga Arab, Arab Saudi, Irak, Israel, Libanon, Libya, Mesir, Palestina, Suriah

Diatur oleh:

Mesir: Akademi Bahasa Arab di Kairo
Syria: Akademi Bahasa Arab Damaskus
Maroko: Akademi Bahasa Arab di Rabat
Israel: Akaemi Bahasa Arab Tel Aviv

Kode bahasa

ISO 639-1

ar

ISO 639-2

ara

SIL

ABV

Bahasa Arab (اللغة العربية al-lughah al-‘Arabīyyah), atau secara mudahnya Arab (عربي ‘Arabī), adalah sebuah bahasa Semitik yang muncul dari daerah yang sekarang termasuk wilayah Arab Saudi. Bahasa ini adalah sebuah bahasa yang terbesar dari segi jumlah penutur dalam keluarga bahasa Semitik. Bahasa ini berkerabat dekat dengan bahasa Ibrani dan bahasa Aram. Bahasa Arab Modern telah diklasifikasikan sebagai satu makrobahasa dengan 27 sub-bahasa dalam ISO 639-3. Bahasa-bahasa ini dituturkan di seluruh Dunia Arab, sedangkan Bahasa Arab Baku diketahui di seluruh Dunia Islam.

Bahasa Arab Modern berasal dari Bahasa Arab Klasik yang telah menjadi bahasa kesusasteraan dan bahasa liturgi Islam sejak lebih kurang abad ke-6. Abjad Arab ditulis dari kanan ke kiri.

Bahasa Arab telah memberi banyak kosakata kepada bahasa lain dari dunia Islam, sama seperti peranan Latin kepada kebanyakan bahasa Eropa. Semasa Abad Pertengahan bahasa Arab juga merupakan alat utama budaya, terutamanya dalam sains, matematik adan filsafah, yang menyebabkan banyak bahasa Eropa turut meminjam banyak kata darinya.

Pengaruh Arab pada bahasa lain

Seperti dengan bahasa Eropa lain, banyak kata-kata Inggris diserap dari bahasa Arab, selalunya melalui bahasa Eropa lainnya, terutamanya Spanyol dan Italia, di kalangan mereka kosa kata setiap hari seperti “gula” (sukkar), “kapas” (qun) atau “majalah” (makhzen). Kata paling dikenali seperti “algebra“, “alkohol” dan “zenith“.

Pengaruh Arab telah menjadi paling mendalam dimana pada negara yang dikuasai oleh Islam atau kuasa Islam. Arab adalah sumber kosa kata utama untuk bahasa yang berbagai seperti bahasa Berber, Kurdi, Parsi, Swahili, Urdu, Hindi, Turki, Melayu, dan Indonesia, baik juga seperti bahasa lain di negara di mana bahasa ini adalah dituturkan. Contohnya perkataan Arab untuk buku /kita:b/ digunakan dalam semua bahasa yang disenaraikan, selain dari Melayu dan Indonesia (dimana ia spesifiknya bermaksud “buku agama”).

Istilah jarak pinjaman dari terminologi agama (seperti Berber taallit “sembahyang” <solat), istilah akademik (seperti Uighur mentiq “logik”), barang ekonomik kata hubung (seperti Urdu lekin “but”.) Kebanyakan aneka Berber (seperti Kabyle), bersama dengan Swahili, pinjam sesetengah bilangan dari Arab. Kebanyakan istilah agama yang digunakan oleh Muslim seluruh dunia adalah pinjaman terus dari Arab, seperti solat ‘sembahyang’ dan imam ‘ketua sembahyang’. Dalam bahasa yang tidak terus dalam perhubungan dengan Dunia Arab, kata pinjaman Arab selalu diperantarakan oleh bahasa lain berbanding dari menjadi dipindahkan terus dari Arab; contohnya, kebanyakan kata pinjama Arab dalam Urdu dimasukkan melalui Parsi, dan banyak kata pinjaman Arab yang lebih tua dalam Hausa telah dipinjam dari Kanuri.

Lafal

Vokal

Bahasa Arab memiliki tiga abjad vokal, yaitu: a [ɛ̈],i [ɪ], u [ʊ]. Selain itu bahasa Arab juga memiliki dua diftong.

Konsonan

Berikut ini penjelasan tentang konsonan dalam Bahasa Arab:

  1. 1.[ʤ] kadang disebut [ɡ] di Mesir dan Yaman Selatan. Di daerah Afrika Utara dan di Syam diucapkan menjadi [ʒ].
  2. /l/ diucapkan [lˁ] hanya dalam kata Allah
  3. /ʕ/ biasanya sebagai akhiran fonetik

Bahasa Arab juga memiliki penekanan, yang disebut tashdid. Penekanan tashdid hanya terjadi di konsonan. Sementara itu, penekanan pada huruf vokal juga terjadi, disebut harkat panjang. Seperti misalnya pada kata KAA-tib (penulis), terjadi penekanan pada huruf vokal, yaitu pemanjangan harkat. Lalu, contoh lainnya yaitu, ma-JAL-LA (majalah), terjadi penekanan pada huruf “La” dimana la merupakan konsonan, dan mendapat penekanan dobel tashdid.

Tata bahasa

Kata benda dalam bahasa Arab dibagi tiga macam yaitu nominatif, akusatif, dan genitif. Bahasa Arab juga memiliki tiga tingkat perbandingan; juga dua jenis kelamin dan tiga keadaan (lampau, sekarang, masa depan, dan perintah).

Kata kerja dalam bahasa Arab dibagi sesuai sudut pandang, jenis kelamin dan jumlah. Sementara itu, kata sifat atau adjektiva dalam bahasa Arab dibagi sesuai dengan jumlah, jenis kelamin dan keadaaan. Kata ganti dalam bahasa Arab terbagi sesuai jenis kelamin dan jumlah.

Sistem Penulisan

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Abjad Arab

Abjad Arab yang terkadang disebut abjad hija’iyah, berasal dari aksara Aramaik (dari bahasa Syria dan Nabatea), dimana abjad Aram terlihat kemiripannya dengan abjad Koptik dan Yunani. Terlihat perbedaan penulisan antara Magribi dan Timur Tengah. Diantaranya adalah penulisan huruf qaf dan fa. Di Maghribi, huruf qaf dan fa dituliskan dengan memiliki titik dibawah dan satu titik diatasnya.

Kaligrafi

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kaligrafi

Setelah perubahan dan penetapan pada Abjad Arab oleh Khalil bin Ahmad al Farahidi pada tahun 786, banyak macam tulisan yang dibentuk yang dikenal dengan nama Kaligrafi. Kaligrafi Arab ini berfungsi sebagai cara penulisan di Al-Qur’an dan juga sebagai dekorasi. Biasanya dipakai juga dalam penulisan hadist dan peribahasa Arab.

Penerjemahan lafal

Penerjemahan bahasa Arab ke abjad Latin biasanya memakai standar yang berbeda, diantaranya: metode untuk menggambarkan bahasa Arab ke abjad Latin secara akurat dan efisien. Beberapa metode ilmiah dalam penerjemahan lafal Bahasa Arab memperbolehkan pembaca untuk melafalkan Bahasa Arab secara tepat dengan menyesuaikannya dengan Abjad Arab. Militer Amerika Serikat telah membuat sistem yang berkaitan dengan penerjemahan lafal berbahasa Arab, yaitu Standard Arabic Technical Transliteration System.

Lembaga bahasa

Akademi Bahasa Arab telah berdiri di beberapa negara berbahasa resmi Arab. Lembaga Bahasa Arab yang paling aktif diantaranya di Damaskus, Kairo dan Rabat. Lembaga ini bertugas mengatur pengembangan bahasa, menerjemahkan kata baru, dan membuat entri kata baru bahasa Arab di kamus. Lembaga juga menerbitkan manuskrip tua dan bersejarah dalam bahasa Arab

Pembelajaran Bahasa Arab

Bahasa Arab menarik minat jutaan penduduk dunia untuk mempelajarinya, karena sebagian istilah Islam berasal dari bahasa Arab. Bahasa Arab juga telah di ajarkan di pesantren-pesantren Indonesia. Banyak universitas internasional dan beberapa sekolah menengah internasional telah mengajarkan Bahasa Arab (Arabic as Foreign Language). Bahasa Arab berkembang semakin luas dengan munculnya software, siaran TV berbahasa arab, dan pembelajaran online

Visi

Visi Program Tahsin adalah terwujudnya pembelajaran Cara  membeca dan Memperbaiki Bacaan atau Tahsin Al Quran yang profesional dan berkualitas.

Misi

1.      Menyelenggarakan proses pendidikan tahsin Al Quran dengan metode Qiraaty.

2.      Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan penunjang di luar perkuliahan untuk memberikan motivasi memperbaiki kualitas bacaan (tahsin)Al Quran.

3.      Mengembangkan pola manajemen kelas secara profesional guna menciptakan suasana pembelajaran yang berkualitas.

Mei 25, 2010 at 7:54 am Tinggalkan komentar

Membangun Harga Diri Anak

Membangun Harga Diri Anak Sebagai orang tua tentunya kita semua tahu apa yang terbaik untuk anak kita, karena setiap anak adalah unik, mereka memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, kemampuan dan bakat yang berbeda, sifat yang berbeda. Karena itu yang paling memahami anak adalah orang tuanya sendiri. Namun, berikut adalah sedikit tips dan trick yang mungkin dapat berguna bagi orang tua:

Do…

• Cintailah anak apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tunjukkanlah kepada mereka bahwa anda mencintainya. • Berhati-hatilah dengan perkataan anda, orangtua adalah manusia yang tentunya juga bisa khilaf saat marah, namun berusahalah untuk selalu menjaga perkataan anda, karena terkadang kata-kata yang ‘menjatuhkan’ bisa membekas di hati mereka. • Berilah pujian atas keberhasilan mereka. • Dengarkan lah cerita mereka, berikan simpati atas masalah yang mereka hadapi. • Berikan dorongan kepada mereka untuk berpikir sendiri dan melakukan hal-hal yang mereka senangi. • Berikan kesempatan untuk mereka melakukan hal-hal yang baru, jangan tergesa-gesa menawarkan bantuan. • Luangkan waktu untuk bersama mereka, sekedar bersantai dan bermain, atau bertukar cerita. • Berilah mereka tanggung jawab sesuai dengan umurnya. • Ajari mereka bertanggung jawab atas perbuatannya, misalnya meminta maaf pada teman saat melakukan kesalahan. Don’t… • Jangan hanya mencintainya pada saat dia melakukan hal-hal yang sesuai keinginan anda. • Jangan membandingkan anak dengan orang lain. • Jangan melontarkan kritikan yang tidak membangun, seperti: “Kamu pemalas, tidak berguna”. • Jangan menyalahkan anak atas sesuatu yang anda lakukan. Apa Pentingnya Sebuah ‘Harga Diri’? Hampir setiap saat kita mendengar kata ‘harga diri’, ‘kepercayaan diri’ dan kata-kata sejenisnya, tapi apakah kita memahami benar pentingnya sebuah ‘harga diri’ bagi kehidupan anak kita di masa yang akan datang? Apakah dengan memiliki harga diri ini mereka bisa berbahagia? Dalam kehidupan, kita sering kali melihat orang-orang yang selalu merasa ‘kurang’, kurang cantik, kurang kaya, dan sebagainya, sehingga mereka tidak merasa bahagia, karena merasa tidak sekaya si-A, atau tidak seberuntung si-B, itulah gambaran orang-orang yang memiliki harga diri rendah, sehingga mereka selalu membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitanya supaya dia merasa lebih baik atas dirinya sendiri. Sedangkan orang dengan harga diri tinggi, dalam situasi yang sama akan belajar untuk melewati masalahnya, dan berjuang untuk meningkatkan nilai tambah dalam dirinya. Orang yang memiliki harga diri, cenderung lebih dapat menerima hal baru, lebih cepat pulih dalam menghadapi krisis, dan tidak takut mengambil resiko. Mereka tidak menghabiskan waktunya untuk ketakutan sambil memikirkan satu masalah terus menerus. Mereka cenderung lebih fleksibel dan memiliki keyakinan untuk mengambil tindakan dalam mengatasi masalah yang timbul. Dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi, dan mudah bersosialisasi. Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa anak yang memiliki harga diri akan lebih bahagia, mudah beradaptasi, kreatif, lebih percaya diri dan ulet. Dan sebagai orangtua tentunya kita menginginkan anak kita tumbuh menjadi orang yang memiliki harga diri kan? Karena itu jangan pernah berhenti memberikan dorongan positif dan dukungan kepada anak anda, karena sikap anda sebagai orang tua merupakan faktor terpenting dalam menciptakan rasa percaya diri dan harga diri anak. Perlakuan orang tua selama masa pertumbuhan anak akan membawa pengaruh besar dalam kehidupan mereka selanjutnya.

Mei 25, 2010 at 4:51 am Tinggalkan komentar

Naluri Seorang Ibu

Naluri Seorang Ibu

Oleh Ranidya

Pernahkah Anda melihat, seekor induk ayam menerjang siapapun yang berusaha mendekati anak-anaknya ? Atau seekor induk kucing yang lalu menggendong anaknya berpindah tempat, ketika merasa anak-anaknya kurang aman di suatu tempat? Lalu, pernahkah Anda sendiri, seorang ibu, merasakan betapa berat hati Anda meninggalkan anak-anak Anda untuk pergi ke kantor, meninggalkan anak-anak Anda dalam pengasuhan orang lain ?

Semua itu hanya beberapa contoh bentuk insting atau naluri yang telah Allah karuniakan pada makhluk-Nya. Naluri melindungi diri, naluri mempertahankan hidup, lalu seperti contoh yang sudah saya sebutkan, naluri melindungi dan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dan Allah tidaklah pernah menciptakan segala sesuatu tanpa maksud dan tujuan, begitu juga dengan naluri. Lalu ketika hati kita meronta karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan naluri kita, apakah kita pantas mengabaikannya ?

Itulah dilema yang saya alami , seorang ibu bekerja, dengan satu anak laki-laki usia 6,5 tahun. Saya mengabaikan naluri saya, dalam kurun waktu yang sama dengan usia anak saya saat ini. Diawali ketika saya harus meninggalkannya di tangan seorang pengasuh, ketika harus kembali bekerja setelah cuti melahirkan. Sedih ? Pasti. Merasa bersalah ? Sangat. Tapi saya berhasil mengabaikannya.

Prestasi luar biasa bagi saya, tapi mungkin cuma hal sepele bagi orang lain, wajar kata sebagian orang, ketika harus meninggalkan anak bekerja, karena tuntutan jaman sekarang memang begitu. Lalu saya kembali harus menelan ludah yang terasa pahit, ketika saat anak saya pertama kali bisa duduk, bisa merangkak, bisa berdiri, bisa berjalan, dan bisa bicara saya tidak menyaksikannya sendiri, ibu pengasuhlah yang menceritakan pada saya.

Dan tak terhitung berapa kali saya diam-diam menangis, ketika anak lebih nyaman bermain dengan pengasuhnya, ketika dia sakit tapi ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan, atau ketika saya harus menjalani tugas diluar kota.

Setiap pertentangan batin berhasil saya lewati, paling tidak sampai saat ini, namun saya merasa pertahanan saya tidak sekuat dulu. Perkiraan bahwa semakin bertambah usia anak, dia akan semakin mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap ibunya memang tidak salah. Anak saya tumbuh jadi anak mandiri, cukup cerdas dan dewasa diantara anak seusianya. Tapi apakah semakin dewasa ia semakin tidak membutuhkan ibunya ? Tegas saya jawab, tidak.

Tapi jenis kebutuhannya yang berbeda dan semakin berkembang. Kalau semasa bayi, dia membutuhkan ASI dari ibunya. Lalu ketika batita, dia membutuhkan tangan yang membimbing ketika berjalan, dia membutuhkan seseorang yang mengajarkan kata-kata baru, dia membutuhkan seseorang yang akan setia menjawab ketika dia bertanya, “Apa ini?” atau “Apa itu?”. Di usia pra sekolah, semakin kompleks pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan. Akankan seorang pengasuh bisa menjawab dengan tepat pertanyaan, “Darimana asal adik bayi?” atau “Kenapa langit berwarna biru?”.

Kemudian ketika memasuki usia sekolah, dia butuh seseorang yang akan menguatkan dan membuatnya merasa sekolah adalah tempat yang aman, dan ada seseorang yang menunggu diluar sepulang sekolah. Di usia SD, dia ingin ikut bermacam les seperti teman-temannya, wushu, drum, robotika… dia membutuhkan seseorang yang mengantarnya, dia membutuhkan seseorang yang menemani dia mengaji, dia membutuhkan seseorang yang mengingatkan keutamaan sholat dan ibadah lain, dia membutuhkan teman yang menemaninya belajar tanpa terkantuk-kantuk. Ketika remaja, dia membutuhkan seseorang untuk menumpahkan kesedihan dan keceriaannya di sekolah.

Bahkan ketika sudah mapan, menikah dan mempunyai anak pun, seorang anak tetap membutuhkan ibunya, meski sekedar untuk meminta nasihat dan mencurahkan keluh kesahnya.

Selama ini, saya merasa sudah memenuhi kebutuhan anak saya, meski tidak optimal. Seorang ibu pasti akan memberikan yang terbaik untuk anaknya, bagaimanapun kondisinya. Tapi ketika anak saya membutuhkan banyak hal, sedangkan saya tidak bisa memenuhi kebutuhan itu (kelelahan, banyak pekerjaan, tidak ada waktu), akhirnya saya yang akan meminta pengertiannya, selalu begitu. Dan dia, laki-laki kecil itu akan selalu berusaha bisa mengerti saya, ibunya. Adilkah bila seorang anak yang seharusnya dimengerti justru dikondisikan untuk berusaha mengerti ?

Sebagai perempuan, sudah jelas kewajiban dan amanah saya yang utama, menjadi ibu dan istri. Dan amanah itu, pasti akan Allah mintai pertanggungjawaban kelak. Bagaimana kau mendidik anakmu? Bagaimana kau melayani suamimu ? Dengan bekerja, saya membebankan satu amanah lagi di pundak saya, dan pasti harus saya pertanggungjawabkan pula. Sering saya berfikir, berani-beraninya saya mengambil satu amanah lagi, sementara satu amanah utama saja belum tertunaikan dengan sempurna ? Astaghfirullah…

Rasanya sudah berkali-kali saya menyimpulkan, solusi masalah saya adalah saya harus berhenti bekerja atau mencari alternative pekerjaan lain yang bisa saya kerjakan dari rumah. Suami saya pun mendukung sepenuhnya, bahkan beliau menyatakan lebih tenang bekerja bila saya sendiri yang mengasuh anak di rumah. Tapi saya tidak pernah punya keberanian untuk mewujudkannya, terlalu banyak hal yang saya takutkan. Bagaimana kalau saya bosan, bagaimana mengkondisikan diri yang terbiasa punya uang sendiri lalu harus tergantung pada suami, bagaimana bila terjadi sesuatu dengan suami, bagaimana mencukupi kebutuhan hanya dengan satu gaji, bagaimana dengan keinginan naik haji ?

Begitulah, ketika beberapa kali keinginan berhenti bekerja menguat, yang biasanya diawali tuntutan-tuntutan anak saya, tak berapa lama keinginan itu pun memudar. Titik terang mulai terlihat beberapa minggu ini, saya semakin mantap untuk berhenti bekerja. Satu per satu pertanyaan dan ketakutan saya terjawab. Soal financial, alhamdulillah Allah memudahkan jalan rejeki kami sehingga kami punya rumah dan kendaraan yang layak, Allah telah menghajikan kami, Allah telah mencukupi semua kebutuhan material kami.

Saya berusaha tidak munafik, memang masih banyak sekali keinginan dan kebutuhan lain yang tidak akan habis kami kejar, semua orang pun pasti begitu. Setelah punya rumah pasti ingin punya rumah yang lebih besar, sudah punya mobil pasti ingin mobil yang lebih bagus, sudah berhaji pasti ingin berhaji lagi. Tapi apakah itu tujuan hidup saya ? Soal ketakutan bosan tanpa kegiatan di rumah, pasti bisa disiasati. Banyak kegiatan yang bisa saya ikuti, memperbanyak pengajian, kursus ketrampilan rumah tangga, LSM ?

Lalu bagaimana bila terjadi sesuatu dengan suami ? Masya Allah, saya sungguh malu pernah meragukan ini, bukankah semuanya telah diatur Allah ? Dan bukankah saya pun bisa tetap berusaha menghasilkan uang meskipun tinggal di rumah ? Kemudian perkataan kerabat yang pernah membuat saya kembali berpikir, bukankan kalau kamu bekerja, berarti kesempatan kamu untuk bersedekah lebih besar ? Pertanyaan itupun terjawab, bukankah sebaik-baik sedekah adalah sedekah untuk keluarga terdekat kita, anak-anak kita dan suami kita ?

Bukan berupa uang, tapi keikhlasan kita menyiapkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Ketika saya mencurahkan kegundahan saya pada seorang sahabat, beliau hanya menjawab dengan kalimat sederhana, “hidup kita semata-mata ibadah, ketika kamu dihadapkan pada dua pilihan yang sama berat, pilihlah yang akan membuat kualitas ibadahmu menjadi lebih baik”. Subhanallah, saya yakin berhenti bekerja adalah yang terbaik bagi saya dan keluarga saya saat ini.

Dan akhirnya satu hal yang semakin memantapkan saya, bagi saya anak adalah investasi akherat saya. Dialah (dan insya Allah adik-adiknya) yang saya harapkan menerangi alam kubur saya dan suami dengan doa-doa dan amalan sholihnya. Dan inilah kesempatan saya sekali seumur hidup, tidak akan terulang, untuk mendidiknya dengan baik sehingga kelak ia akan dewasa menjadi lelaki sholih yang selalu mengingat saya dan suami dalam setiap doanya.

Setelah melalui proses istikhoroh dan membersihkan niat karena Allah semata, saya pun memutuskan berhenti bekerja. Sungguh, keputusan ini bukan keputusan ringan, tapi merupakan keputusan terberat dalam hidup saya. Dan ternyata setelah memutuskan pun, Allah masih menguji kesungguhan saya. Permohonan resign saya belum terkabul dari perusahaan tempat saya bekerja. Tapi saya yakin dan selalu berusaha berbaik sangka, ketika saya benar-benar ikhlas dan berserah pada Allah, pasti Allah akan memudahkan urusan saya. Dan bukankan ketika kita mendapatkan sesuatu melalui proses yang berat, pasti kelak kita akan lebih mensyukurinya ?

**Apa yang saya rasakan mungkin berbeda dengan apa yang dirasakan ibu-ibu lain. Banyak ibu yang bekerja tapi tetap menikmati perannya sebagai ibu maupun sebagai pekerja dan bisa menjalankan kedua amanah itu dengan sama baiknya, salut dan penghargaan saya setinggi-tingginya untuk ibu-ibu yang berdedikasi seperti ini. Ingin saya menjalani seperti itu, tapi apa daya saya merasa tidak cukup mempunyai kekuatan sebesar itu. Hidup adalah pilihan, dan ini pilihan yang saya tempuh. Selalu bersyukur, bersabar, dan menyadari konsekuensi setiap pilihan adalah kunci untuk berbahagia dengan apapun pilihan kita, insya Allah.
(Ummu Abrar)

Mei 25, 2010 at 3:39 am Tinggalkan komentar

Allah swt Mengujiku Dengan Empat Nyawa

Allah Mengujiku dengan Empat Nyawa

Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.

Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?

Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.

Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.

Bagi Khairiyah, pernikahan merupakan pintu ibadah yang di dalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah.

Ia sengaja memilih pinangan melalui sang kakak karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keikhlasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak dihadiri ibu dan ayah Khairiyah. Karena, keduanya memang sudah lama dipanggil Allah ketika Khairiyah masih sangat belia.

Hari-hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia. Walau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia merasa cukup dengan yang ada.

Keberkahan di rumah tangga Khairiyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi, Khairiyah langsung hamil. Ia dan sang suami pun begitu bahagia. “Nggak lama lagi, kita punya momongan, Bang!” ujarnya kepada sang suami.

Mulailah hari-hari ngidam yang merepotkan pasangan baru ini. Tapi buat Khairiyah, semuanya berlalu begitu menyenangkan.

Dan, yang ditunggu pun datang. Bayi pertama Bu Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan, tapi ada juga kekhawatiran.

Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah, ujian berat itu mulai bergulir.

Dokter menyatakan bahwa bayi pertama Bu Khairiyah prematur. Sang bayi lahir di usia kandungan enam bulan. Ia bernama Dina.

Walau dokter mengizinkan Dina pulang bersama ibunya, tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja, urusan biaya menjadi tak terelakkan untuk seorang suami Bu Khairiyah yang hanya sopir.

Setidaknya, dua kali sepekan Bu Khairiyah dan suami mondar-mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, Bu Khairiyah mengantar Dina sendirian.

Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang kedua.

Bagi Bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak kedua mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak kedua akan menjadi pelipur lara. Begitulah kira-kira angan-angan Bu Khairiyah dan suami.

Dengan izin Allah, anak kedua Bu Khairiyah lahir dengan selamat. Bayi itu pun mempunyai nama Nisa. Lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergolek layaknya pasien berpenyakit dalam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan, merangkak dan duduk pun belum mampu. Suatu ketidaklaziman untuk usia bayi satu tahun.

Beberapa minggu berlalu setelah letih dan repotnya Bu Khairiyah menghadapi kelahiran. Allah memberikan tambahan ujian kedua buat Bu Khairiyah dan suami. Anak keduanya, Nisa, mengalami penyakit aneh yang belum terdeteksi ilmu kedokteran. Sering panas dan kejang, kemudian normal seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya.

Hingga di usia enam bulan pun, Nisa belum menunjukkan perkembangan normal layaknya seorang bayi. Ia mirip kakaknya yang tetap saja tergolek di pembaringan. Jadilah Bu Khairiyah dan suami kembali mondar-mandir ke dokter dengan dua anak sekaligus.

Di usia enam bulan Nisa, Allah memberikan kabar gembira untuk yang ketiga kalinya buat Bu Khairiyah dan suami. Ternyata, Bu Khairiyah hamil.

Belum lagi anak keduanya genap satu tahun, anak ketiga Bu Khairiyah lahir. Saat itu, harapan kedatangan sang pelipur lara kembali muncul. Dan anak ketiganya itu bayi laki-laki. Namanya, Fahri.

Mulailah hari-hari sangat merepotkan dilakoni Bu Khairiyah. Bayangkan, dua anaknya belum terlihat tanda-tanda kesembuhan, bayi ketiga pun ikut menyita perhatian sang ibu.

Tapi, kerepotan itu masih terus tertutupi oleh harapan Bu Khairiyah dengan hadirnya penghibur Fahri yang mulai berusia satu bulan.

Sayangnya, Allah berkehendak lain. Apa yang diangankan Bu Khairiyah sama sekali tidak cocok dengan apa yang Allah inginkan. Fahri, menghidap penyakit yang mirip kakak-kakaknya. Ia seperti menderita kelumpuhan.

Jadilah, tiga bayi yang tidak berdaya menutup seluruh celah waktu dan biaya Bu Khairiyah dan suami. Hampir semua barang berharga ia jual untuk berobat. Mulai dokter, tukang urut, herbal, dan lain-lain. Tetap saja, perubahan belum nampak di anak-anak Bu Khairiyah.

Justru, perubahan muncul pada suami tercinta. Karena sering kerja lembur dan kurang istirahat, suami Bu Khairiyah tiba-tiba sakit berat. Perutnya buncit, dan hampir seluruh kulitnya berwarna kuning.

Hanya sekitar sepuluh jam dalam perawatan rumah sakit, sang suami meninggal dunia. September tahun 2001 itu, menjadi titik baru perjalanan Bu Khairiyah dengan cobaan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya. Dan, tinggallah sang ibu menghadapi rumitnya kehidupan bersama tiga balita yang sakit, tetap tergolek, dan belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan.

Tiga bulan setelah kematian suami, Allah menguji Bu Khairiyah dengan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Fahri, si bungsu, ikut pergi untuk selamanya.

Kadang Bu Khairiyah tercenung dengan apa yang ia lalui. Ada sesuatu yang hampir tak pernah luput dari hidupnya, air mata.

Selama sembilan tahun mengarungi rumah tangga, air mata seperti tak pernah berhenti menitik di kedua kelopak mata ibu yang lulusan ‘aliyah ini. Semakin banyak sanak kerabat berkunjung dengan maksud menyudahi tetesan air mata itu, kian banyak air matanya mengalir. Zikir dan istighfar terus terucap bersamaan tetesan air mata itu.

Bu Khairiyah berusaha untuk berdiri sendiri tanpa menanti belas kasihan tetangga dan sanak kerabat. Di sela-sela kesibukan mengurus dua anaknya yang masih tetap tergolek, ia berdagang makanan. Ada nasi uduk, pisang goreng, bakwan, dan lain-lain.

Pada bulan Juni 2002, Allah kembali memberikan cobaan yang mungkin menjadi klimaks dari cobaan-cobaan sebelumnya.

Pada tanggal 5 Juni 2002, Allah memanggil Nisa untuk meninggalkan dunia buat selamanya. Bu Khairiyah menangis. Keluarga besar pun berduka. Mereka mengurus dan mengantar Nisa pergi untuk selamanya.

Entah kenapa, hampir tak satu pun sanak keluarga Bu Khairiyah yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka seperti ingin menemani Khairiyah untuk hal lain yang belum mereka ketahui.

Benar saja, dua hari setelah kematian Nisa, Nida pun menyusul. Padahal, tenda dan bangku untuk sanak kerabat yang datang di kematian Nisa belum lagi dirapikan.

Inilah puncak dari ujian Allah yang dialami Bu Khairiyah sejak pernikahannya.

Satu per satu, orang-orang yang sebelumnya tak ada dalam hidupnya, pergi untuk selamanya. Orang-orang yang begitu ia cintai. Dan akhirnya menjadi orang-orang yang harus ia lupai.

Kalau hanya sekadar air mata yang ia perlihatkan, nilai cintanya kepada orang-orang yang pernah bersamanya seperti tak punya nilai apa-apa.

Hanya ada satu sikap yang ingin ia perlihatkan agar semuanya bisa bernilai tinggi. Yaitu, sabar. “Insya Allah, semua itu menjadi tabungan saya buat tiket ke surga,” ucap Bu Khairiyah kepada Eramuslim. (mnh)

(Seperti dituturkan Bu Khairiyah, warga Setiabudi Jakarta, kepada Eramuslim)

Mei 25, 2010 at 3:28 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

  • Blogroll

  • Feeds